Tampilkan postingan dengan label Kisah Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Renungan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Oktober 2010

Ringkasan Buku 'Rich dad poor dad'

"Belajarlah yang giat, raih angka yang baik, dan kamu akan mendapat pekerjaan yang berupah tinggi dan tunjangan yang besar" begitu kata orangtua kita.
Robert Kiyosaki dididik oleh dua ayah, yang satu kaya dan yang satu miskin. Yang satu berpendidikan tinggi, mendapat gelar Ph.D. Dan menyelesaikan pendidikan sarjana hanya dalam waktu kurang dari dua tahun. Kemudian melanjutkan studi ke Stanford University, University of Chicago, dan Northwestern University, semuanya dengan beasiswa penuh. Ayah yang satunya tidak pernah menyelesaikan pendidikan SMP-nya. Mereka berdua berhasil dalam kariernya, bekerja keras seumur hidup mereka. Keduanya berpenghasilan besar. Tetapi ayah yang satu bersusah payah secara finansial sepanjang hidupnya dan ia mati meninggalkan banyak hutang. Sedangkan yang satunya kelak menjadi salah satu orang terkaya di Hawaii dan mati meninggalkan puluhan juta dolar untuk keluarganya dan amal kasih.
Kedua pria itu kuat, kharismatik, dan berpengaruh. Keduanya memberi nasehat, tetapi nasehat mereka tidak sama, bahkan kerap bertentangan. Misalnya, yang satu mengatakan, "Belajarlah yang giat agar kamu dapat menemukan perusahaan yang baik untuk bekerja." Satunya lagi berkata, "Belajarlah yang giat sehingga kamu menemukan perusahaan yang baik untuk kamu beli."
Ayah yang satu mengatakan, "Saya tidak mampu membelinya." Ayah yang lain melarang penggunaan kalimat tersebut. Ia mendorong Robert berkata, "Bagaimana saya bisa membelinya?"
Yang dimaksud dengan ayah yang miskin (di buku ini kebanyakan disebut sebagai Ayah Berpendidikan) adalah ayah kandung Robert, sedangkan ayah yang kaya adalah ayah temannya, Mike. Kisah pertemuannya dengan Sang Ayah Kaya berawal saat ia berusia sembilan tahun. Saat itu Jimmy, teman satu sekolah mereka (Robert dan Mike), mengajak tiga temannya berakhir pekan di villa ditepi pantai, namun tidak mengajak Robert dan Mike karena mereka dianggap orang miskin. Robert dan Mike, pun tertantang untuk membuat sebuah bisnis. Dengan semangat berapi-api Robert dan Mike mengumpulkan tube timah bekas pasta gigi dari para tetangga dan mencairkannya untuk kemudian dicetak menjadi uang logam. Impian mereka hancur saat Sang Ayah Berpendidikan menjelaskan bahwa hal yang mereka lakukan adalah pemalsuan. Ia lalu menyarankan Robert untuk mempelajari cara menjadi orang kaya pada ayah Mike. Ayah Mike pada waktu itu belumlah kaya, tetapi Ayah Berpendidikan tahu bahwa ayah Mike suatu saat akan menjadi sangat kaya karena memiliki beberapa gudang, sebuah perusahaan konstruksi, sebuah toko waralaba, dan tiga restoran.

Dalam buku ini digambarkan beberapa perbedaan sudut pandang tentang uang antara orang kaya dan kelas menengah. Orang kaya cenderung optimis dan berani mengambil risiko, sementara kelas menengah cenderung pesimis dan lebih suka bermain aman. Kesempatan datang dan pergi, orang kaya melihatnya dengan cepat. Tetapi kebanyakan orang hanya mencari uang, dan bukan kesempatan, sehingga hidup mereka cenderung statis.
Kecerdasan bisa memecahkan masalah dan menghasilkan uang, namun memiliki uang tanpa kecerdasan finansial membuat uang cepat habis. Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa yang terpenting dalam hidup ini bukanlah berapa banyak uang yang bisa anda hasilkan, tetapi berapa yang bisa anda simpan. Kita tentu pernah mendengar kisah-kisah orang miskin yang memenangkan undian. Secara tiba-tiba mereka menjadi kaya, tapi tak lama kemudian jatuh miskin lagi.
Akuntansi adalah pelajaran yang paling penting jika ingin menjadi kaya. Kenali perbedaan aset dan liabilitas. Aset adalah sesuatu yang menambah uang. Liabilitas adalah sesuatu yang membuat kita mengeluarkan uang. Orang kaya menambah aset, orang miskin dan menengah menambah liabilitas. Robert Kiyosaki menggambar diagram yang sederhana untuk menjelaskan mengapa orang kaya semakin kaya sedangkan kelas menengah bergumul terus. Orang kaya mempunyai aset yang menghasilkan pemasukan yang lebih besar dari sekedar untuk menutup pengeluaran, orang miskin menambah liabilitas (yang mereka kira adalah aset). Setelah anda memahami perbedaan itu, pusatkanlah segala usaha anda hanya untuk membeli aset yang menghasilkan pemasukan. Itulah cara terbaik untuk mulai perjalanan menjadi kaya. Fokuslah menjaga liabilitas dan pengeluaran akan turun.
Yang tidak kalah penting adalah mempelajari ilmu penjualan. Dalam hal ini, ia menyajikan contoh tentang McDonald's. Banyak yang bisa membuat burger yang lebih enak dari McDonald's, namun mengapa McDonald's lebih kaya dari mereka? Penyebabnya adalah karena McDonald’s memiliki sistem penjualan yang terbaik. Mereka memiliki banyak toko di perempatan strategis.
Buku ini memotivasi kita agar tidak takut gagal dalam memulai bisnis. Ayah yang kaya berkata pada Robert, "Lakukan saja apa yang dilakukan Kolonel Sanders." Kolonel Sanders kehilangan bisnisnya pada usia 66 tahun dan hidupnya mulai tergantung pada cek Jaminan Sosial. Dia lalu berkeliling negeri untuk menjual resep ayam goreng. Dia ditolak 1.009 kali sebelum akhirnya seseorang mengatakan "Ya, baik." Dan dia pun menjadi seorang multijutawan pada umur lanjut ketika kebanyakan orang justru mengundurkan diri.
Walaupun buku ini mengajarkan cara untuk menjadi kaya, namun dalam buku ini Ayah Kaya mengajarkan agar jangan sampai uang mengendalikan hidup kita. Kebanyakan orang berusaha bekerja untuk mencari uang, namun semakin banyak uang didapat, mereka semakin takut kehilangan harta.
readmore »»  

Selasa, 31 Agustus 2010

Kisah Tukang Kayu

Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat.

Ia merasa lelah. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya. Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya.

Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya. Akhirnya selesailah rumah yang diminta. Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan. Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. "Ini adalah rumahmu, " katanya, "hadiah dari kami."

Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.

Itulah yang terjadi pada kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan. Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik.

Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri. Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda. Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu.

Renungkan rumah yang sedang kita bangun. Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaikbaiknya seolah-olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup. Biarpun kita hanya hidup satu hari, maka dalam satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh keagungan dan kejayaan. Apa yang bisa diterangkan lebih jelas lagi. Hidup kita esok adalah akibat sikap dan pilihan yang kita perbuat hari ini. Hari perhitungan adalah milik Tuhan, bukan kita, karenanya pastikan kita pun akan masuk dalam barisan kemenangan.

(adapted from "The Builder", Unknown, thanks to Cecilia Attal) "Hidup adalah proyek
yang kau kerjakan sendiri".
readmore »»  

Mungkin Ya, Mungin Tidak


Pada jaman dahulu, ada sebuah desa di mana tinggal seorang tua yang sangat bijaksana. Penduduk desa percaya bahwa orang tua itu selalu dapat menjawab pertanyaan mereka atau memecahkan persoalan mereka. Suatu hari, seorang petani di desa itu datang menemui orang tua yang bijak ini dan berkata dengan putus asa, “Pak Tua yang bijaksana, tolonglah saya. Saya sedang mendapat musibah. Kerbau saya mati dan saya tak punya binatang lain yang dapat membajak sawah! Bukankah ini musibah paling buruk yang menimpa saya?” Orang tua yang bijak tersebut menjawab, “Mungkin ya, mungkin tidak.” Petani itu bergegas kembali ke desa dan menceritakan kepada
tetangga-tetangganya bahwa orang tua yang bijak itu kini sudah menjadi gila. Tentu saja inilah musibah terburuk yang dialaminya. Mengapa orang tua itu tidak melihatnya?

Namun, keesokan harinya tiba-tiba muncul seekor kuda yang masih muda dan kuat di dekat tanah milik petani itu. Karena tak punya kerbau lagi untuk membajak sawahnya,
petani itu berpikir untuk menangkap kuda itu sebagai ganti kerbaunya. Dan akhirnya ditangkapnyalah kuda itu. Betapa gembiranya si petani. Membajak sawah tak pernah semudah ini rasanya. Ia datang kembali ke orang tua yang bijak itu dan meminta maaf, “Pak Tua yang bijaksana, Anda memang benar. Kehilangan kerbau bukanlah musibah yang paling buruk yang menimpa diri saya. Inilah rahmat terselubung bagi saya! Saya tak akan pernah bisa memiliki kuda baru seandainya kerbau saya tidak hilang. Anda pasti setuju bahwa inilah hal terbaik yang pernah saya dapatkan.” Orang tua itu menjawabnya sekali lagi, “Mungkin ya, mungkin tidak.” Lagi-lagi begini, pikir si petani. Pastilah orang tua yang bijak itu sudah benar-benar gila sekarang.!

Tetapi sekali lagi si petani tidak mengetahui apa yang terjadi. Beberapa hari kemudian anak laki-laki si petani jatuh dari kuda yag sedang dinaikinya. Kakinya patah dan tak bisa lagi membantu ayahnya bertani. Tidak, pikir si petani. Sekarang kami akan mati kelaparan. Sekali lagi si petani datang menemui orang tua yang bijak itu. Kali ini ia berkata, “Bagaimana Anda bisa tahu bahwa mendapatkan kuda bukanlah sesuatu yang baik bagi saya? Lagi-lagi anda benar. Anak saya terluka dan tak bisa lagi membantu saya bertani. Kali ini saya benar-benar yakin bahwa inilah hal terburuk yang pernah menimpa saya. Sekarang pasti Anda setuju.” Tetapi seperti yang terjadi sebelumnya, orang tua yang bijak itu dengan tenang menatap si petani dan dengan suaranya yang sejuk berkata sekali lagi, “Mungkin ya, mungkin tidak.” Marah karena
merasa orang tua yang bijak tersebut menjad! i begitu bodoh, si petani langsung pulang ke desanya.

Keesokan harinya, datanglah tentara yang bertugas mengumpulkan semua pemuda yang bertubuh sehat untuk dijadikan prajurit dalam perang yang baru saja meletus. Anak laki-laki si petani adalah satu-satunya pemuda di desa itu yang tidak diikutsertakan. Ia tetap hidup, sementara pemuda lainnya kemungkinan besar akan mati dalam peperangan.
(dikutip dari buku “Don’t Sweat the Small Stuff”- Richard Carlson, Ph.D. )
readmore »»  

Kamis, 26 Agustus 2010

Bagaimana Menjadi Orang yang Selalu Beruntung?

Kenal orang yang anda rasa begitu beruntung? Mungkin teman anda, saudara, atau tetangga sebelah rumah.
Anda merasa apapun yang dia lakukan rasanya selalu berhasil. Buka toko langsung laris, buka bisnis langsung melejit. Apa saja yang dia lakukan rasanya lancar dan semulus jalan tol.
Bukan hanya untuk urusan materi, dalam segi kehidupan lainnya pun nampak sangat lancar. Keluarga harmonis. Hubungan dengan siapa saja berlangsung dengan baik.
Anda ingin menjadi orang yang beruntung seperti dia? Bagaimana caranya?
Simak tips sederhana berikut ini.
readmore »»  

Kamis, 15 April 2010

Rich Dad Poor Dad

Gw baru aja selesai membaca sebuah buku dan ga ada salahnya kalo gw sedikit ng'share sama kalian kan. Yah, itung" dari pada membaca buku yang tebel kurang lebih 1,5 cm, panjang 22 cm, lebar 15 cm, mendingan gw ceritain dulu sinopsisnya.. Hehe..

Judulnya "Rich Dad, Poor Dad", buku yang dikarang oleh Robert Kiyosaki ini sudah terjual lebih dari 16 lembar kopi. Hebat kan. Makanya gw jadi penasaran sama nih buku, dan ternyata berguna banget loh. Membuat gw jadi semangat





Inti dari buku ini adalah BAGAIMANA MENJADI KAYA???.Yup, siapa sih yg ga mau bekerja di suatu perusahaan dengan jabatan tinggi, gaji besar, terus pensiun dalam usia muda dan dapet tunjangan besar. Hampir kebanyakan orang berpikir seperti itu.

Tapi coba liat dari sisi lain.

Semakin tinggi jabatan kita, semakin banyak waktu kita terkuras. Semakin besar gaji kita, semakin banyak pula barang-barang yang ingin kita miliki. Semakin banyak barang yang kita punya, semakin besar pajak kita. Semakin besar pajak kita, semakin pengeluaran kita. Semakin besar pengeluaran kita, semakin keras kita bekerja supaya dapat gaji makin besar. Gaji makin besar, balik lagi ke awal, semakin besar pengeluaran kita.
Ini yang disebut dengan Perlombaan Tikus. Kita terus aja dalam lingkaran itu dan ga pernah keluar.

Yang jadi pertanyaan, bagaimana cara kita keluar dari permainan tersebut..??
Salah satu syarat mendasar, kita harus mengerti bagaimana uang itu bekerja. Jangan biarkan kita yang bekerja untuk uang, tapi uanglah yang harus bekerja untuk kita.
Dan kita harus dengan jelas bisa membedakan antara asset dengan liabilities.
Aset adalah uang yang masuk ke kantong kita. Sedangkan liabilities, mengeluarkan uang dari kantong kita.

Contoh nyata, banyak orang menjadikan rumah mereka sebagai aset, bahkan investasi terbesar mereka. Hal itu salah besar, sebab rumah itu tidak membuat uang masuk ke dalam kantong kita, tapi justru membuat kita mengeluarkan uang karena pajak bumi bangunan yang harus kita bayar. Sederhana, tapi benar kan. Banyak orang yang sulit menjadi kaya walau mereka mendapat gaji yang besar, karena pengeluaran pajak mereka bertambah besar.

Cara simple adalah, jangan simpan uang anda dalam bentuk rumah, mobil, atau bank. Tapi biarkan uang anda bermain dalam, contohnya, real estate, reksa dana, atau saham. Secara logika, jika uang anda diinvestasikan dalam bentuk rumah, tentu akan ada pengeluaran untuk pajak, sedangkan jika uang anda disimpan dalam bentuk saham, tentu tidak ada yang tahu dan tidak akan kena pajak. Hehehe..

Terus ada lagi..
Banyak anak remaja yang bisa membuat burger lebih enak daripada burger yang dibuat oleh Mcd., tapi kenapa mereka ga jadi sekaya pemilik Mcd..?? Itu karena mereka tidak tahu bagaimana caranya mengelola uang Talenta yang mereka miliki saja tidak cukup jika tidak ditunjang dengan pengetahuan akan penjualan dan tentang uang..

Tapi kebanyakan orang, merasa takut jika memainkan uangnya dalam saham. Karena mereka takut jika saham tiba" hancur, maka uang mereka semua akan habis, jadi mereka memilih untuk bermain aman. Gw dapet sedikit pelajaran dari sini.
Alasan orang tidak pernah menang, karena mereka takut untuk kalah. Sama halnya orang mau masuk surga, tapi tidak mau mati.
Jadi, kalau Anda terus takut menjadi miskin, Anda tidak akan pernah mencoba, dan akhirnya tidak pernah menjadi kaya. Lagipula jikalau semakin banyak kita kalah, semakin banyak kita belajar, semakin sukseslah kita..

Itu sebagian kecil isi dari buku "Rich Dad, Poor Dad". Buat yang ngerasa tertarik pada dunia bisnis dan ingin menjadi kaya raya, ga ada salahnya kan membaca buku ini. Lagipula dengan membaca itu bisa memperluas pengetahuan. Daripada bengong-bengong doank di rumah..

Tuhan memberikan kita talenta masing-masing.
Tinggal tergantung bagaimana kita mempergunakannya.
readmore »»