Tampilkan postingan dengan label Buku Rich dad poor dad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Rich dad poor dad. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Oktober 2010

The Rich dad poor dad -Cash Flow Quadrant Robert kiyosaki

Memahami “The Cashflow Quadrant” karya Robert Kiyosaki memang harus dalam pemahaman dengan pemikiran yang positif, jika tidak dalam proses aplikasinya akan menjadi hal yang negatif, intinya dalam memahami maksud yang ingin disampaikan Robert Kiyosaki ini akan memberikan dampak yang baik dan juga sebaliknya. Catatan panjang ini berdasarkan berbagai sumber yang aku sertakan ataupun tidak. (:Males mode on)..dan kembali kepada perspektif anda sendiri dalam pemahamannya, silahkan membacanya sampai habis…cihuuy!!!

Robert T Kiyosaki adalah penulis buku Rich Dad Poor Dad, dan The Cash Flow Quadrant yang menjadi best seller di seluruh dunia. Karyanya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, dan menjadi panduan penting bagi masyarakat yang ingin menjadi pengusaha dan investor.

“Banyak orang bergumul dengan kesulitan finansial, yang sebenarnya disebabkan mereka bertahun-tahun sekolah tapi tidak belajar apapun tentang uang. Hasilnya, orang bekerja untuk mendapatkan uang, dan tak pernah belajar bagaimana memiliki uang yang bekerja untuk mereka,”demikian ujar Robert dalam buku Rich Dad Poor Dad.Robert adalah generasi keempat keturunan Amerika Jepang, yang lahir di besarkan di Hawaii. Ia berasal dari keluarga pendidik yang terkenal. Ayahnya seorang kepala Pendidikan untuk negara bagian Hawaii. Selepas SMU, Robert melanjutkan pendidikannya di New York dan setelah lulus, ia bergabung dengan US marine Corp dan pergi ke Vietnam sebagai perwira dan pilot helikopter yang bersenjata. Sekembalinya dari perang, karier bisnis Robert dimulai. Tahun 1977 dia mendirikan sebuah perusahaan yang memproduksi dompet surfer dari velcro dan nilon yang pertama ada di pasaran, dan berkembang menjadi bisnis yang menghasilkan jutaan dollar.

Tahun 1985 ia mendirikan sebuah perusahaan pendidikan internasional yang beroperasi di tujuh negara, mengajarkan bisnis dan investasi kepada puluhan ribu orang.

Pada umur 47 tahun Robert melakukan sesuatu yang paling ia sukai, berinvestasi. Bisnis Robert adalah real estate dan mengembangkan perusahaan-perusahaan kecil. Namun gairah sejatinya adalah mengajar. Dia diakui sebagai pembicara hebat tentang pendidikan finansial dan tren ekonomi. Karyanya telah mengubah dan memberi inspirasi kepada jutaan orang di seluruh dunia.

Pesan Rober sangat jelas,”bertanggungjawablah atas keuangan anda atau hanya menerima nasib sepanjang hidup anda. Anda menjadi tuan atas uang atau budak uang. Terserah anda memilihnya.”

Berulang kali, dalam ceramah maupun dalam bukunya, Robert selalu mengajarkan agar kita jangan bekerja untuk mencari uang, tapi berusahalah agar uang bekerja untuk kita. Bukunya yang berjudul Rich Dad Poor Dad maupun The Cashflow Quadrant dengan penuh semangat dan dengan cara yang mudah dipahami, ia mengajarkan bermacam kiat agar kita menjadi kaya, dalam arti uang bekerja untuk kita, bukan kita bekerja untuk uang.

Cashflow Quadrant

Karya Robert yang paling dikenal adalah membagi kategori hidup orang berdasarkan sumber penghasilan ke dalam 4 kuadran, yakni kuadran I E (employee/pegawai), Kuadran II S (Self Employed/pekerja lepas), Kuadran III B (business Owner/pemilik usaha), dan kuadran IV I (Investor/penanam modal).

Robert mengatakan, kebanyakan dari kita berpotensi memperoleh penghasilan dari keempat kuadran. Contoh kasus seorang dokter yang bekerja di sebuah rumah sakit dengan jabatan direktur, memiliki klinik spesialis anak, dan punya usaha perkebunan. Sebagai direktur rumah sakit, sang dokter ada di kuadran I (E), namun sebagai seorang ahli penyakit anak, ia bertindak sebagai self employed (S). Ia juga memiliki usaha perkebunan, yang berarti seorang business owner (B). Bisa jadi dokter itu juga melakukan investasi di sektor properti atau yang lainnya yang berarti masuk ketagori kuadran IV.

Nah sang dokter adalah orang yang lengkap hidupnya karena mengalami hidup dalam kuadran I-IV.

Pesan-Pesan Ayah kaya

Jadi sebenarnya kita diberi ajaran 4 kuadran, untuk memilih salah satu atau bisa juga semuanya. Robert memang menganggap kuadran E sebagai yang paling miskin, dan Investor menjadi paling kaya.

Dalam bukunya yang terkenal itu Robert menggambarkan dirinya sebagai seorang yang lahir dari keluarga pegawai yang menghendaki Robert supaya belajar tekun bekerja di perusahaan atau pemerintah dan mendapat gaji baik dan sejumlah tunjangan dan uang pensiun. Sementara ia mengenal seorang teman yang sangat dekat dan ayahnya seorang kaya raya dan dermawan.

Ayah kaya (Rich Dad) itulah yang menarik perhatian Robert, hingga ia bisa belajar bagaimana mendapatkan kekayaan dengan cara yang cerdas. Dalam uraiannya, ayah kaya adalah seorang investor yang mengajarkan kepada Robert bagaimana menjadikan uang bekerja untuk robert.

Robert akhirnya memang benar-benar berhasil menjadi seorang yang kaya dengan menjadi investor.

Buku Ricd Dad maupun The Cashflow Quadrant menjanjikan kepada pembaca bahwa untuk menjadi kaya, seorang harus pindah dari kuadran kiri yakni seorang E dan S menjadi B atau I.

Seorang pekerja adalah seorang yang sangat tergantung kepada perusahaan. Hidupnya kelihatan enak, tapi sesungguhnya sangat beresiko. Seorang S bisa bekerja sendiri, masalahnya ia akan sangat tergantung kepada keahliannya.

Contohnya seorang dokter buka praktek. Ia bekerja siang malam melayani pasien karena banyaknya pasien di wilayahnya. Ia sangat terkenal di seluruh kota. Masalahnya ketika ia berlibur ia tidak bisa mendapatkan apa-apa.

Sementara jika kita hidup di kuadran kanan, baik sebagai pemilik bisnis maupun investor, ia bisa meninggalkan kantor dengan enak karena sistem bisnis berjalan dengan sendirinya.

Seorang E bekerja, seorang S memiliki pekerjaan sendiri, seorang B memiliki sistem dan orang-orang yang bekerja, dan seorang I menjadikan uang bekerja untuk dirinya.

Dalam sebuah perkembangan negara jumlah orang yang hidup di kuadran I-IV jumlahnya harus seimbang sehingga semua orang bisa hidup, baik sebagai pekerja, profesional, pemilik bisnis maupun investor.

Di Indonesia, kebanyakan orang mau hidup di kuadran I, sementara di kuadran III dan IV sangat sedikit, itulah sebabnya pengangguran ada dimana mana. Berbahagialah anda yang kini sudah hidup di kuadran III (sebagai business owner) dan IV (sebagai investor).

Berdasarkan cerita Kiyosaki, dia dilahirkan dari sebuah keluarga yang terpandang di Hawai, terutama dalam bidang pendidikan dan menjadi kepala dinas pendidikan di Hawai pada waktu itu. Ayah kandungnya adalah seorang berpendidikan tinggi dan sangat cerdas. Ayahnya mendapat pendidikan sampai Ph.D kemudian dilanjutkan ke Stanford University, University of Chicago dan Nothwestern University. Untuk pendidikan tingginya ,semua dibiayai oleh beasiswa. Kiyosaki dalam kisahnya menyebut ayah kandungnya sebagai ayah yang miskin (poor dad), karena meskipun sukses dalam pendidikan dan karir, pada akhir hidupnya meninggalkan banyak hutang dan tidak kaya. Sedangkan ayah satunya adalah bukan ayah kandungnya akan tetapi ayah dari temannya, yang darinya Kiyosaki banyak belajar tentang filosofi uang dan kebebasan finansial. Ayah kayanya (rich dad) tidaklah memiliki pendidikan setinggi ayah miskinnya, bahkan tidak lulus pendidikan tingkat 8 nya ( SLTP mungkin kalau di Indonesia) . Akan tetapi diakhir hidupnya, dia menjadi orang terkaya di Hawai. Keduanya adalah orang yang sukses dibidangnya, akan tetapi didalam kebebasan finansial, keduanya berakhir dengan hasil yang berbeda.

Pada saat ayah kayanya belum kaya dan ayah miskinnya belum miskin, kedua orang ayahnya adalah orang yang berusaha keras untuk sukses di bidangnya. Ayah miskinnya bekerja keras di jalur pendidikan dan ingin hidup tenang sebagai pegawai pemerintahaan yang baik, sedang ayah kayanya berusaha keras membangun kerajaan bisnisnya. Kedua ayah Kiyosaki ini memiliki cara pandang yang sangat berbeda terkait uang, pengelolaan, dan tujuan finansialnya. Ayah miskinnya mengatakan bahwa mencintai uang adalah sumber dari segala setan, sedangkan ayah kayanya mengatakan bahwa kehabisan dan kekurangan uang adalah sumber dari setan. Ayah miskinnya mengatakan bekerjalah dengan keras, dapatkan pekerjaan yang baik dan capailah karir setinggi-tingginya, sedang ayah kayanya menyarankan agar segera membangun aset dan mencapai kebebasan finansial (finansial freedom).
Ayah miskinnya, hanya sedikit menyinggung tentang uang dan bagaimana memperolehnya, sedang ayah kayanya setiap hari mengasah otaknya dengan kecerdasan finansial dan mengembangkan bisnisnya.

Berikut beberapa perbedaan pandangan ayah miskin (PD) dan ayah kaya (RD)Kiyosaki terkait tentang uang dan kebebasan finansial :
1. PD : Rumah adalah aset
RD : Rumah yang ditinggali adalah liabilitas.
Rich dad mengatakan, jika kamu berhenti bekerja saat ini, aset akan memasukkan uang kedalam kantongmu, sedangkan liabilitas mengambil uang dari kantongmu. Seringkali orang biasa mengatakan liabilitas sebagai aset, dan ini adalah pelajaran pertama kalau ingin kaya, harus bisa membedakan mana aset dan mana liabilitas.

2. PD : Saya tidak mampu untuk melakukannya
RD : Apa yang saya lakukan agar mampu?
Pernyataaan saya tidak mampu melakukannya akan mematikan otak kita, dengan pertanyaan yang tepat, pikiran akan terbukan dan akan berusaha menemukan jawabannya.

3. PD : Alasan saya tidak kaya karena kamu nak
RD : Alasan saya harus menjadi kaya karena memiliki kamu nak.

4. PD : Saya tidak tertarik dengan uang
RD : Uang adalah power

5. PD : Apabila berkaitan dengan uang, jangan mengambil resiko, bermainlah dengan aman saja
RD : Belajarlah untuk mengelola resiko.

6. PD : Bayar aku yang terakhir.
RD : Bayar aku yang pertama.
Ayah kayanya selalu mengambil keuntungan dari pendapatannya dan meletakkan uang itu kedalam account investasi yaitu untuk membeli aset-aset dia. Ayah miskinnya membelanjakan semua uangnya pertama dan tidak pernah terpikir untuk berinvestasi.

7. PD : Konsentrasilah pada pendidikan.
RD : Fokuslah pada kecerdasan finansial sebagaiman juga kecerdasan akademik.

8. PD : Belajarlah hanya kata-kata pendidikan.
RD : Belajarlah kata-kata keuangan, kata-kata adalah tool kamu yang paling powerfull.

9. PD : Aku bekerja untuk uang.
RD : Uang bekerja untukku.

10.PD : Berfikir untuk menghasilkan uang akan menyelesaikan masalah keuangan.
RD : Mengetahu bahwa pendidikan finansial adalah jawaban masalah keuangan.
Bukan berapa uang yang bisa anda dapatkan yang terpenting, akan tetapi berapa banyak uang dapat anda pegang dan berapa lama uang tersebut anda pegang.

Rich Dad Poor Dad karya Robert T Kiyosaki ini memang fenomenal, meskipun sudah tidak lagi menempati rak “buku laris” di Gramedia, tapi buku ini cukup membuat gonjang-ganjing beberapa waktu yang lalu.

Sejak awal, ketika MLM sedang booming, saya sama sekali tidak tertarik. Saya adalah fans kerja keras, dimana orang harus bekerja keras untuk mendapatkan yang ia cita-citakan. Konsep MLM yang mendasari orang tinggal ongkang-ongkang kaki untuk menjadi kaya, tidak masuk di saya. Dan karena orang MLM selalu membawa buku ini menjadi “kitab suci”-nya, otomatis saya mengindari buku ini juga.

Ditambah lagi, beberapa tahun yang lalu dimana ngeblog juga sedang booming, seorang seleblog menulis artikel yang menyerang buku ini. Merasa sependapat, buku ini juga saya anggap sampah. (Padahal jika dicermati, penulis blog itu sebenarnya memakai gaya bahasa yang sama persuasif-nya dengan buku yang sedang ia serang — cuma lebih tidak kentara).

Oke, sekarang giliran saya mengutarakan pendapat tentang buku ini.

Tak dapat dipungkiri, si Kiyosaki ini kapitalis habis, pemuja uang. Uang adalah pusat dunianya. Gaya berceritanya menarik, persuasif, cenderung mempengaruhi ketika sang Ayah kaya memaparkan konsep-konsepnya tentang bagaimana mengelola uang. Gaya bahasanya cenderung meremehkan karyawan-karyawan yang setia bekerja keras, meremehkan orang-orang berpendidikan tinggi yang tidak bisa membebaskan diri dari masalah finansialnya.

Tapi hei, buku ini tidak sepenuhnya sampah — kecuali kalau kita membacanya dengan emosional.

Buku ini bagus. Berisi pelajaran tentang bagaimana mengelola uang. Bagaimana mengendalikan dua emosi yang bertolak belakang: ketakutan akan kekurangan uang dan ketamakan ketika mendapatkan uang. Menjadi kaya tidak cukup untuk bisa mengendalikan dua emosi ini. Bagaimana aset, pendapatan, investasi dikelola dalam hidup Anda. Menurut saya, sisi bagus buku ini terletak pada filosofinya. Memberikan kita sebuah sudut, potret, dan konsep bagaimana mengelola keuangan.

Tetapi buku ini akan menjadi sampah jika Anda menelan mentah-mentah hal-hal teknis yang sedang dibahas. Seperti yang dilakukan oleh orang-orang MLM itu. Konsep membuat uang bekerja untuk Anda terlalu berbahaya jika kalimat ini tidak dicerna bersama kedalaman pemikiran. Anda akan segera terjebak oleh kalimat-kalimat persuasif buku ini, terjebak oleh sisi emosi Anda.

Maksud saya, tidak harus menjadi pengusaha agar uang bekerja untuk Anda. Tidak harus memiliki rumah yang dikontrakkan untuk membuat liabilitas menjadi sebuah keuntungan (haha). Buku ini bagus untuk perluasan sudut pandang saja
readmore »»  

CashFlow Quadrant dan Mindset Pengusaha

‘Anda ingin merubah nasib, ingin benar-benar peduli terhadap nasib orang lain, ingin berjuang untuk keluarga’. Kami tawarkan salah satu solusinya.

Sebagai awal kami akan sharing tentang sebuah buku karangan Robert T. Kiyosaki berjudul Cash Flow Quadran. Buku ini benar2 menginspirasi jutaan orang. Berdasarkan caranya mencari UANG setiap orang bisa dibagi manjadi 4 Quadran, E, S, B, I.



1. E itu Employe / Karyawan /You have a job
’Belajarlah yang BENAR kemudian kerja di perusahaan / instansi yang Bonafid’. Contoh posisi yang diperebutkan di sini adalah lurah/kades, Camat, Bupati / Walikota, Gubernur, Mentri, Anggota Dewan, Manajer perusahaan, Direktur Perusahaan, bahkan Presiden. Penghasilannya boleh besar tetapi ketika mereka tidak bekerja lagi / pensiun, maka penghasilannya tiap bulanpun ikut BERHENTI.

2. S itu / Self Employed / Kerja buat Diri Sendiri / Para Profesional / You own a job
‘ Ingin melakukan pekerjaan dengan BENAR maka kerjakan / lakukan sendiri pekerjaan itu dan teruslah BELAJAR untuk meraih PROFESIONAL TERTINGGI’ Contoh posisi yang diperebutkan di sini adalah dokter spesialis, artis, pemain sepakbola kelas dunia, pengacara senior, akuntan, dll. Penghasilannya boleh besar tetapi ketika mereka tidak bekerja lagi / pensiun, maka penghasilannya tiap bulanpun ikut BERHENTI.

3. I itu Investor / Money work for you
‘UANG menghasilkan UANG lagi’. Contoh : Deposito, Menyewakan toko, Menyewakan apartemen, Menyewakan rumah, Pemilik PARAGON CITY, dll. Penghasilannya BESAR dan mereka memang tidak perlu BEKERJA, namanya aja ’INVESTOR’.

4. B itu Business Owner / You own a system and people work for you.
’Serupa dengan S tapi pekerjaan sudah didelegasikan dan ada systemnya’. Contoh : Pemilik Indomart, Pemilik Alfamart, dll. Penghasilannya BESAR dan ketika mereka tidak bekerja lagi / pensiun, maka penghasilannya tiap bulanpun TETAP bahkan bisa BERTAMBAH.

E dan S itu masuk kategori Aktive Income
Untuk menghasilkan UANG harus BEKERJA.

B dan I itu masuk kategori Pasif Income
Untuk menghasilkan UANG TIDAK HARUS BEKERJA.

Pasti Anda juga berpikiran sama dengan Kami, yaitu mempunyai impian untuk ada di Quadrant B dan I, namun kebanyakan orang menganggap mustahil, karena agar bisa di Quadrant ini membutuhkan modal yang sangat besar sekali dan juga butuh keahlian dan pengalaman agar tidak salah memilih usaha.

Dan kami menawarkan mulai dari pelanggan saja juga boleh, mulai dari pedagang eceran juga boleh, menjadi agen kecil-kecilan juga boleh, namun jika Anda mempercayai komitmen kami Silahkan mendaftar sebagai Distributor Besar cuma dengan modal 10 juta rupiah.

Sebagai ilustrasi memilih partner kerja kami mempunyai sebuah perumpamaan yang menarik....

Misalnya ketika Anda berencana mendaki sebuah Gunung, kemudian memilih seorang 'Penunjuk Jalan / Guide' saat mau mendaki Gunung, apakah memilih orang yang baru sempat "baca petanya" saja atau memilih orang yang sudah berkali-kali mendaki gunung tersebut dan selalu sampai di Puncak.

Pasti Anda akan pilih yg sudah berkali-kali capai puncak khan, meskipun orang yang sudah baca petanya itu seorang profesor yang jenius sekalipun...Untuk itulah kami ada untuk menjadi GUIDE bagi Anda yang serius.”Saya akan membahas lebih dalam tentang Prinsip Cash Flow Quadrant Robert T. Kiyosaki. Setiap dari Anda pasti berada di salah satu Quadrant tersebut.

Karena ini merupakan tawaran kerjasama bisnis, maka saya akan sebut sejumlah angka yaitu 1,6 Milyar Rupiah atau Rp.1.600.000.000,- .

Pertanyaannya adalah :
1. Apakah Anda yakin dapat mengumpulkan sejumlah angka tersebut dengan cara kerja normal?
2. Kalau sudah yakin, berapa waktu yang dibutuhkan untuk mengumpulkannya?

Menurut Prinsip Cash Flow Quadrant orang bisa berada di Quadrant E,S,I atau B.

1. Quadrant E, Employe, jabatan yang menjadi incaran banyak orang adalah lurah, camat, walikota, gubernur, anggota dewan, mentri, manajer, dll. Misalkan aja seorang anggota dewan kota Semarang dengan gaji ’pure’ / ’murni’ yg diterima tiap bulan adalah 15 juta tiap bulan, maka berapa lama yang dibutuhkan untuk mengumpulkan uang 1,6 Milyar ?

Rumusnya adalah 1,6 Milyar dibagi 15 juta dibagi 12 bulan = 8,89 tahun

Anggota Dewan kota Semarang aja butuh 8,89 tahun untuk mengumpulkannya dengan asumsi gaji tersebut utuh tanpa dikurangi kebutuhan sehari-hari. Trus bagaimana dengan karyawan yang gajinya 5 juta? Butuh waktu 26,67 tahun untuk mengumpulkannya dengan asumsi gajinya UTUH nggak dikurangi biaya hidup sehari-hari.

2. Quadrant S,Self Employe, profesi yang diincar banyak orang adalah dokter spesialis, konsultan ahli, pengacara ahli, dll. Misalkan aja dokter spesialis dengan hasil rata-rata tiap bulan adalah 20 jt.

Rumusnya adalah 1,6 Milyar dibagi 20 juta dibagi 12 bulan = 6,67 tahun

Dokter spesialis aja butuh 6,67 tahun untuk mengumpulkannya dengan asumsi gaji tersebut utuh tanpa dikurangi kebutuhan sehari-hari. Trus bagaimana dengan profesi kebanyakan orang seperti pedagang kelas menengah kebawah yang hasil keuntungan tiap bulannya 3 juta? Butuh waktu 44,44 tahun untuk mengumpulkannya dengan asumsi gajinya UTUH nggak dikurangi biaya hidup sehari-hari dan omsetnya stabil.

3. Quadrant I, Investor, dan pilihan investasi yang bisa dikerjakan bisa saja di pasar saham, dunia property, deposito, dll. Misalkan aja Anda memiliki uang sebesar 1,6 Milyar, berapa waktu yang dibutuhkan untuk balik modal, sebut aja uang sebesar itu digunakan untuk bangun sebuah rumah dengan 5 kamar dan masing-masing kamar disewakan sebesar 800 ribu tiap bulan, totalnya 4 juta tiap bulan tanpa BEKERJA (sudah Pasif Income).

Rumusnya adalah 1,6 Milyar dibagi 4 juta dibagi 12 bulan = 33,33 tahun.

Butuh waktu 33,33 tahun untuk balik modal dengan asumsi tiap tahun tidak ada kenaikan sewa dan tidak ada biaya operasional seperti rehab, listrik, air, dll.

4. Quadrant B, Bisnis Owner, dan ini pilihan yang kami tawarkan dan investasi yang dibutuhkan hanya 10 juta saja. Dan PT.Winalite siap membayar sejumlah uang yang Anda butuhkan sesuai dengan Leadership Anda. Selain itu FFG (Freedom Faithnet Global) juga siap memberikan ”KEBAHAGIAAN” buat Anda dan keluarga, karena di luar sana banyak orang dengan harta melimpah tapi HIDUPNYA SENGSARA.

Khususnya saya sendiri (ibu Yulyani/Yeyen) sudah membuktikan ketika menjalankan sesuai arahan para Leader, maka saya pribadi bisa mengumpulkan uang lebih dari 1,6 Milyar hanya dalam waktu 18 bulan saja atau 1,5 tahun. FANTASTIC !!!...Sekarang tinggal pilihan Anda, karena saya adalah seorang manusia biasa sebagaimana dengan Anda dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Terus terang dulu ketika masih sekolah saya dikenal sebagai anak yang ’gagap’ saat bicara apalagi bicara didepan orang banyak....ketika saya belajar tidak kenal menyerah akhirnya bisa mengatasi kegagapan saya meskipun kadang-kadang masih keluar”
readmore »»  

Makna kecerdasan finansial -financial freedom

Banyak buku yang membahas tentang kecerdasan finansial, keuangan, dan kemakmuran. Salah satunya yang cukup terkenal adalah Robert T Kiyosaki dan banyak tokoh-tokoh lainnya. Di Indonesia ada Tung Desem Waringin, Safir Senduk, dan lain-lain yang mengajarkan tentang kecerdasan finansial… kalo aku ga penting apa itu cerdas finansial…yang penting happy…:pemikiran yang aneeh…Tetapi pada intinya, kecerdasan finansial adalah keterampilan untuk mendapatkan uang dengan cerdas dan benar, mempergunakan uang dengan bijaksana, terencana, dan terukur. Kemampuan untuk meningkatkan aset dan mengurangi liabilitas untuk mencapai kemakmuran dan kebebasan finansial (financial freedom). Kecerdasan ini jarang diajarkan secara formal kepada kita bahkan itu oleh sekolah maupun oleh orang tua kita. Tapi saya merasa sangat beruntung ketika masih kecil diajarkan oleh Ibu untuk membuat perencanaan uang sederhana, minimal satu bulan sekali membuat permintaan uang saku dengan rencana. Diajarkan untuk senang menabung, dan hidup sederhana saja. Hal-hal seperti ini perlu kita ajarkan kepada anak-anak kita. Tetapi, tentunya sekarang sudah sangat berkembang ilmu mengenai kecerdasan finansial, mengelola uang, dan aset-aset yang bisa dipilih untuk dimiliki. Dan kita dengan mudah mempelajari tentang semua ini, karena sudah banyak yang sumber informasi dan tempat untuk mengasah kecerdasan finansial.

Bagaimana cara kita untuk meningkatkan kecerdasan finansial adalah salah satu hal penting yang perlu kita pelajari. Kita dapat meningkatkan kecerdasan finansial dengan membaca berbagai pengetahuan dasar mengenai hal tersebut, mengikuti seminar, traning, dan segala macam pelatihan. Kita juga harus berani mengambil keputusan dan bertindak lebih cerdas. Tryal and error perlu dilakukan untuk mengasah kecerdasan finansial. Bukankah guru yang terbaik adalah pengalaman kita sendiri? Cara paling mudah dan relatif berhasil adalah apabila anda memiliki mentor orang-orang yang telah sukses secara finansial, mempelajari pandangan dan gaya hidupnya, serta secara konsisten mengaplikasikannya kedalam kehidupan sehari-hari.
readmore »»  

Sabtu, 09 Oktober 2010

Kutipan:Kutipan: Rich Dad, Poor Dad (Robert T. Kiyosaki bersama Sharon L.Lechter C.P.A)

Sebagai pengantar: Buku ini menceritakan 2 “ayah” Robert T. Kiyosaki, yakni ayah kandungnya -sebagai kepada dinas pendidikan di Hawaii, yang berpendidikan tinggi, tapi tidak mengajarkan -yang disebut Robert- intelegensi finansial, dan meninggal dunia tanpa meninggalkan sepeser uang. Ayahnya ini dipanggilnya “poor dad” karena dianggapnya tidak melek finansial. Sedangkan ayah ke-2, sebenarnya adalah ayah temannya (nama temannya adalah Mike) yang ketika mereka berdua masih berumur 9 tahun, “ayah” tsb ( disebutnya “rich dad”) mulai berbisnis banyak (toko, konstruksi, restoran) dalam skala kecil, dan meninggal dalam keadaan mewariskan imperium bisnis kepada anaknya, si Mike. Hal 29:
“Jadi, apa yang akan memecahkan masalah?”, tanya saya. “Menerima begitu saja uang 10 sen yang amat kecil ini dan tersenyum?”

Ayah saya yang kaya tersenyum,”Itulah yang dilakukan oleh banyak orang. Mereka dengan pasrah hanya menerima slip gaji karena tahu bahwa tanpa itu, mereka sekeluarga akan kesulitan secara finansial. Tetapi hanya itu yang mereka lakukan, menanti kenaikan upah dengan berpikir bahwa uang yang lebih banyak akan memecahkan masalah. Kebanyakan hanya menerimanya, dan sebagian mencari pekerjaan sambilan untuk bekerja lebih keras, tapi lagi-lagi menerima upah yang kecil”.

Saya duduk memandangi lantai, mulai memahami pelajaran yang diberikan oleh ayah saya yang kaya. Saya bisa merasakan inilah rasanya kehidupan. Akhirnya saya memandang ke atas lagi dan bertanya, “Jadi, apa yang akan memecahkan masalah?”

“Ini”, katanya sambil menepuk kepala saya perlahan-lahan. “Benda di antara kedua telingamu ini.”

Hal 40; penjelasan oleh Rich Dad:
“Tidak, kekayaan tidak memecahkan masalah. Saya akan menjelaskan emosi yang lain, yaitu hasrat dan keinginan. Ada yang menyebutnya ketamakan, tapi saya lebih senang menyebutnya keinginan. Sangatlah wajar bila orang menginginkan sesuatu yang lebih baik, lebih indah, lebih menyenangkan. Jadi orang bekerja untuk uang karena keinginan. Mereka menginginkan uang untuk kesenangan yang mereka pikir bisa mereka beli. Tetapi kesenangan yang dibawa oleh uang seringkali tidak lama, dan mereka pun segera menginginkan uang lebih banyak untuk mendapatkan kesenangan lebih banyak, kenikmatan lebih banyak dan keterjaminan lebih banyak. Karena itu mereka terus bekerja, mengira bahwa uang akan menenangkan jiwa mereka yang diganggu oleh rasa takut dan keinginan. Tetapi uang tidak dapat menenangkan jiwa.”

Hal 58; Usahawan Terkaya
Pada tahun 1932, sekelompok pemimpin kami yang paling hebat dan para usahawan terkaya mengadakan sebuah pertemua di Hotel Edgewater Beach di Chicago. Diantara mereka yang hadir tampak Charles Schwab, pimpinan perusahaan baja terbesar; Samuel Insull, presiden perusahaan jasa publik terbesar di dunia; Howard Hopson, pimpinan perusahaan gas terbesar; Ivan Kreuger, presiden International Match Co., salah satu perusahaan terbesar di dunia pada waktu itu; Leon Frazier, presiden Bank of International Settlements; Richard Whitney, presiden New York Stock Exchange; Arthur Cotton dan Jesse Livermore, dua spekulator saham terbesar; dan Albert Fall, anggota kabinet Presiden Harding. Dua puluh lima tahun kemudaian, sembilan dari mereka (yang tercantum di atas), nasibnya berakhir seperti berikut: Schwab meninggal tanpa uang sepeser pun setelah hidup selama lima tahun dengan uang pinjaman. Insull meninggal tanpa uang di tanah asing. Kreuger dan Cotton juga meninggal tanpa uang. Hopson menjadi gila. Whitney dan Albert Fall baru saja dilepaskan dari penjara. Fraser dan Livermore mati bunuh diri.

Saya ragu apakah orang bisa mengatakan apa yang sesungguhnya terjadi pada mereka. Jika kita melihat tahun terjadinya, 1923, itu persis sebelum terjadinya kehancuran pasar dan Depresi Besar pada 1929, yang saya duga berpengaruh sangat besar pada orang-orang itu dan kehidupan mereka. Poinnya adalah begini: Sekarang kita hidup dalam zaman perubahan yang lebih besar dan lebih cepat daripada yang mereka alami. Saya sangat prihatin bahwa terlalu banyak orang menaruh perhatian terlalu besar pada uang dan bukan pada harta mereka yang terpenting, yakni pendidikan mereka. Jika orang disiapkan untuk fleksibel, berpikiran terbuka, dan terus belajar, mereka akan tumbuh semakin kaya melalui perubahan-perubahan itu. Jika mereka mengiran bahwa uang akan memecahkan masalah mereka, saya khawatir orang-orang ini akan menjalani hidup yang berat dan buruk. Kecerdasan bisa memecahkan masalah dan menghasilkan uang. Memiliki uang tanpa kecerdasan finansial akan membuat uang itu cepat habis.

Kebanyakan orang tidak bisa menyadari bahwa yang penting dalam hidup ini bukanlah berapa banyak uang yang bisa Anda hasilkan, tetapi berapa banyak uang yang bisa Anda simpan. Kita tentu pernah mendengar kisah-kisah tentang orang miskin yang memenangkan undian. Secara tiba-tiba mereka menjadi kaya raya, tapi tak lama kemudian jatuh miskin lagi. Mereka memenangkan undian atau lotere jutaan dolar, tapi dalam waktu singkat mereka kembali ke titik di mana mereka mulai. Atau kisah tentang para atlet profesional, yang pada umur 24 tahun, meraup uang jutaan dolar setahun, dan tidur di bawah kolong jembatan pada umur 34 tahun. Dalam sebuah surat kabar yang saya baca ketika saya menulis buku ini, ada cerita tentang seorang pemain basket yang masih muda yang tahun lalu memiliki uang jutaan dolar. Sekarang, dia mengklaim teman-temannya, pengacara dan akuntan telah mengambil uangnya, dan saat ini dia bekerja di tempat cuci mobil dengan upah yang minim.

Hal 74: Kisah tentang bagaimana pencarian impian finansial berubah menjadi mimpi buruk finansial

Ini diperlihatkan sangat baik dengan kembali kepada pasangan muda yang keduanya sama-sama bekerja. Karena pemasukan/penghasilan mereka naik, mereka memutuskan untuk pindah (dari apartemen) dan membeli rumah impian mereka. Setelah tinggal di rumah baru, mereka mempunyai sebuah pajak baru, yang disebut pajak properti (PBB). Kemudian mereka membeli sebuah mobil baru, furnitur baru, peralatan baru yang sesuai dengan rumah baru mereka. Semuanya terjadi dalam sekejap, mereka terjaga dan kolom liabilitas mereka penuh dengan utang kredit rumah dan utang kartu kredit.

Mereka sekarang terjebak dalam perlombaan tikus. Anak yang mereka harapan pun lahir sudah. Mereka bekerja lebih keras lagi. Proses itu pun terulang dengan sendirinya. bla bla bla akhirnya kartu kredit mereka terlunasi dengan menutupnya dengan hipotek rumah. Cicilan mereka turun karena mereka memperpanjang utang mereka sampai 30 tahun lebih.

Tetangga mereka menelpon dan mengundang mereka untuk berbelanja -maklum obral besar menjelang hari raya sedang digelar di semua toko dan mal. Sebuah kesempatan untuk menghemat uang, karena harga jelas lebih murah. Mereka berkata dalam hati, “Saya tidak akan membeli apa pun. Saya akan melihat-lihat saja.” Tetapi bila kebetulan mereka menemukan sesuatu, mereka pun akan mengeluarkan kartu kredit mereka dari dompet.

Saya bertemu pasangan muda seperti ini sepanjang waktu, hanya saja nama-nama mereka berbeda, tetapi masalah finansial mereka tetap sama. Mereka datang ke salah satu seminar saya untuk menedengarkan apa yang harus saya katakan. Mereka bertanya pada saya, “Bisakah Anda mengatakan pada kami bagaimana caranya menghasilkan uang lebih banyak?” Kebiasaan mereka menghabiskan/membelanjakan uang telah membuat mereka mencari uang yang lebih banyak.

Mereka bahkan tidak tahu bahwa masalah sesungguhnya adalah bagaimana mereka memilih membelanjakan uang yang memang mereka miliki, dan itulah penyebab riil dari pergumulan finansial mereka. Ini disebabkan oleh kebutaan finansial dan tidak memahami antara aset dan liabilitas.

Uang yang lebih banyak tidak selalu menyelesaikan masalah uang yang dialami seseorang. Intelegensilah yang menyelesaikan masalah. Ada perumpamaan yang dikatakan oleh seorang teman saya berulan kali kepada mereka yang berutang, “Jika kamu mendapati dirimu dalam sebuah lubang… berhentilah menggali.”

Hal 79:
Diagram di bawah ini mengilustrasikan perbedaan persepsi antara ayah saya yang kaya dan ayah saya yang miskin mengenai rumah mereka. Ayah yang satu berpikir bahwa rumahnya adalah aset, dan ayah satunya lagi berpikir bahwa rumahnya adalah liabilitas (kewajiban).

Saya ingat ketika saya menggambar diagram berikut ini untuk memperlihatkan arah arus kas kepada ayah saya. Saya juga memperlihatkan kepadanya pengeluaran tambahan akibat memiliki rumah. Sebuah rumah yang lebih besar berarti pengeluaran yang lebih besar, dan arus kas terus keluar melalui kolom pengeluaran.

Hal 127
Permainan CASHFLOW (buatan Robert, red) didisain untuk memberikan umpan balik pribadi kepada setiap pemain. Tujuanya adalah memberi Anda pilihan. Jika Anda menarik kartu bergambar kapal dan itu menempatkan Anda dalam utang, pertanyaannya adalah, “Sekarang, apa yang dapat Anda lakukan?” Berapa banyak pilihan finansial yang berbeda dapat Anda ajukan? Itulah tujuan permainan itu: mengajar pemain untuk berpikir dan menciptakan pilihan-pilihan finansial yang baru dan beragam.

Ada orang yang bermain CASHFLOW memperoleh banyak uang dalam permainan itu, tetapi mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan hal itu. Kebanyakan dari mereka juga tidak berhasil secara finansial dalam kehidupan nyata sehari-hari. Setiap orang lain kelihatan lebih maju daripada mereka, sekalipun mereka mempunyai banyak uang. Dan itu benar dalam kehidupan nyata. Ada banyak orang yang mempunyai banyak uang dan tidak maju secara finansial.

Membatasi pilihan Anda sama saja dengan bergantung pada gagasan-gagasan lama. Saya mempunyai seorang teman SMU yang sekarang bekerja di tiga pekerjaan. Dua puluh tahun yang lalu, dia adalah yang terkaya di kelas saya. Ketika perkebunan gula setempat ditutup, perusahaan tempat dia bekerja turut merosot bersama perkebunan itu. Dalam benaknya, dia hanya mempunyai satu pilihan dan itu adalah pilihan kuno: bekerja keras. Masalahnya adalah, dia tidak dapat menemukan pekerjaan setara yang mengakui senioritasnya dalam perusahaan lama. Akibatnya, pekerjaan yang sekarang dia dapatkan sebenarnya berada di bawah kualifikasi yang dimilikinya, sehingga upahnya pun lebih rendah. Dia sekarang mengerjakan tiga pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan yang cukup untuk bertahan hidup.

Hal 129
Sebagai anak muda, Mike dan saya terus-menerus diberi tahu oleh ayah saya yang kaya bahwa “Uang tidaklah riil”. Ayah yang kaya kadang-kadang mengingatkan kami tentang betapa dekatnya kami dengan rahasia uang pada hari pertama kami berkumpul dan mulai “membuat uang” dari batu gips. “Orang miskin dan kelas menengah bekerja untuk uang“, katanya. “Orang kaya menciptakan uang. Semakin riil uang itu menurut kalian, semakin keras kalian akan bekerja untuknya. Jika kalian dapat mengerti gagasan bahwa uang tidak riil, kalian akan tumbuh lebih kaya dengan lebih cepat.”

Satu-satunya aset yang paling kuat yang kita miliki adalah pikiran kita. Jika pikiran dilatih dengan baik, ia dapat menciptakan kekayaan yang luar biasa dalam waktu yang kelihatannya singkat. Kekayaan yang melampaui impian para raja dan ratu 300 tahun yang lalu. Pikiran yang tidak terlatih juga dapat menciptakan kemiskinan yang ekstrim yang akan terus berlanjut dengan mengajarkannya pada keluarga mereka.

Hal 153:
Di sekolah dan tempat kerja, pendapat populer adalah ide tentang “spesialisasi”. Yakni, untuk mendapatkan uang lebih banyak atau dipromosikan, Anda harus mengambil “spesialisasi“. Itu sebabnya para dokter medis selalu mencari spesialisasi. Hal yang sama juga berlaku untuk akuntan, arsitek, pengacara, pilot, dan lain-lain. Ayah saya yang berpendidikan bercaya pada dogma yang sama itu. Itu sebabnya dia sangat bersemangat ketika dia akhirnya mencapai gelar doktoralnya. Dia sering mengakui bahwa sekolah mengganjar orang yang semakin banyak belajar tentang apa yang kurang.

Ayah yang kaya mendorong saya untuk melakukan hal yang sebaliknya, “Kamu ingin tahu sedikit tentang apa yang banyak” adalah sarannya. Itu sebabnya selama bertahun-tahun saya bekerja di bidang-bidang yang berbeda dalam perusahaannya. Untuk sementara, saya bekerja di departemen akuntingnya. Meskipun mungkin saya tidak akan pernah menjadi akuntan, dia ingin saya belajar lewat “osmosis” (pelajaran/pengertian yang berangsur-angsur). Ayah yang kaya tahu saya akan mengambil “jargon” dan pengertian akan apa yang penting dan apa yang tidak penting. Saya juga bekerja sebagai kenek dan pekerja bangunan, dan juga penjualan, pemesanan, dan pemasaran. Dia “mengurus” Mike dan saya. Itu sebabnya dia mendesak kami duduk dalam pertemuan dengan para bankir, pengacara, akuntan, dan broker-nya. Dia ingin kami tahu sedikit tentang setiap aspek imperiumnya.

Hal 156:
Sekali orang terjebak dalam proses seumur hidup untuk membayar tagihan, mereka menjadi seperti tupai kecil yang berlari-lari dalam lingkaran sangkar mereka yang kecil. Kaki-kaki kecil mereka yang berbuku berputar mati-matian, sangkarnya pun berputar kencang, tetapi ketika esok tiba, mereka masih tetap berada dalam sangkar yang sama: pekerjaan yang hebat (sindiran, red)

Hal 160:
Ketika saya bertanya pada kelas yang saya ajar, “Berapa banyak dari kalian yang dapat memasak hamburger yang lebih enak ketimbang McDonalds?” Hampir semua murid mengangkat tangan mereka. Kemudian saya bertanya, “Jadi, jika kebanyakan dari kalian dapat memasak hamburger yang lebih enak, bagaimana McDonald’s bisa menghasilkan uang lebih banyak daripada kalian?”

Jawabannya jelas: McD sangat hebat dalam sistem bisnis. Alasan kenapa begitu banyak orang berbakat itu miskin adalah karena mereka memfokuskan diri untuk membangun hamburger yang lebih enak, dan hanya tahu sedikit atau tidak sama sekali tentang sistem bisnis.

Hal 164:
Kedua ayah saya bersifat murah hati. Keduanya mudah memberi. Mengajar adalah satu cara mereka untuk memberi. Semakin banyak mereka memberi, semakin banyak yang mereka terima. Satu perbedaan yang mencolok adalah dalam hal memberikan uang. Ayah yang kaya memberikan banyak uang begitu saja. Dia memberi pada tempat ibadahnya, yayasannya, untuk berbagai kegiatan amal. Dia tahu bahwa untuk menerima uang, Anda harus memberi uang. Memberi uang adalah rahasia bagi kebanyakan keluarga yang sangat kaya. Itu sebabnya ada organisasi seperti Rockefeller Foundation dan Ford Foundation. Organisasi-organisasi itu dirancang untuk mengambil kekayaaan mereka dan meningkatkannya, dan juga memberikannya untuk selama-lamanya.

Ayah saya yang berpendidikan selalu mengatakan, “Bila saya mempunyai uang lebih, saya akan memberikannya.” Masalahnya adalah, tidak pernah ada uang lebih. Maka dia bekerja semakin keras untuk mendapatkan uang lebih banyak daripada memfokuskan diri pada hukum uang yang paling penting, “Berikanlah dan Anda akan menerima”. Sebaliknya dia percaya pada “Terimalah dan kemudian Anda memberi”.

Hal 215:
Kita pergi ke sekolah untuk belajar suatu profesi sehingga kita dapat bekerja untuk mendapatkan uang. Menurut pendapat saya, belajar bagaimana memiliki uang yang bekerja untuk Anda juga penting.

Saya menyukai kemewahan saya seperti halnya orang lain. Perbedaannya asalah, sebagian orang membeli kemewahan mereka dengan cara kredit. Ini jebakan -mengikuti-keluarga-Salim. Ketika saya ingin membeli mobil Porsche, jalan yang termudah adalah menelpon bankir saya dan mendapatkan pinjaman. Alih-alih memilih berfokus pada kolom liabilitas, saya memilih berfokus pada kolom aset.

Sebagai kebiasaan, saya menggunakan hasrat/nafsu saya untuk mengkonsumsi untuk mengilhami dan memotivasi kejeniusan finansial saya untuk berinvestasi.

Sekarang ini terlalu sering, kita lebih berfokus pada meminjam uang untuk mendapatkan hal-hal yang kita inginkan ketimbang berfokus pada menciptakan uang. Yang satu lebih mudah untuk jangka pendek, tetapi lebih sulit untuk jangka panjang. Adalah suatu kebiasaan buruk bahwa kita sebagai individu dan sebagai bangsa telah jatuh ke sana. Ingatlah, jalan yang mudah seringkali menjadi sulit, dan jalan yang sulit menjadi mudah.

Hal 218
Ayah saya yang kaya memberi uang sekaligus pendidikan. Dia sangat percaya akan zakat atau derma. Dia akan selalu mengatakan, “Jika kamu menginginkan sesuatu, kamu harus memberi lebih dulu.” Ketika dia kekurangan uang, dia tetap memberikan uangnya pada tempat ibadah atau ke lembaga sosial kesukaannya.

Jika saya dapat meninggalkan satu gagasan tunggal untuk Anda, ya gagasan itu. Kapanpun Anda merasa “kekurangan” atau “membutuhkan” sesuatu, berikanlah dulu apa yang Anda inginkan dan itu akan kembali pada Anda berlimpah-limpah. Itu benar untuk uang, sesungging senyum, cinta, dan persahabatan. Saya tahu hal ini seringkali merupakan hal terakhir yang mau dilakukan seseorang, tetapi itu selalu berhasil untuk saya. Saya percaya bahwa prinsip timbal balik itu benar, dan saya memberikan apa yang saya inginkan. Saya menginginkan uang, maka saya memberikan uang, dan itu kembali berlipat ganda. Saya ingin meningkatkan penjualan, maka saya membantu orang lain menjual sesuatu, dan penjualan pun mendatangi saya. Saya menginginkan koneksi, dan saya membantu orang lain mendapatkan koneksi, dan seperti sulap, koneksi mendatangi saya. Beberapa tahun yang lalu, saya mendengar sebuah perumpamaan yang berbunyi, “Tudah tidak perlu menerima, tetapi manusia perlu memberi”.

readmore »»  

Ringkasan Buku Rich Dad, Poor Dad


Robert Kiyosaki mengajar orang untuk menjadi jutawan... Itu sebabnya mereka menyebutnya guru sekolah para jutawan. ''Alasan utama orang bersusah payah secara finansial adalah karena mereka menghabiskan waktu bertahun-tahun di sekolah tetapi tidak belajar apa pun tentang uang. Hasilnya adalah bahwa orang belajar mencari uang.. tetapi tidak pernah belajar agar uang bekerja untuk mereka.'' Robert Kiyosaki Penulis Rich Dad, Poor Dad ''Bila anda ingin sukses secara finansial, anda harus membaca Rich Dad, Poor Dad. Semua yang dipaparkan masuk akal dan akan menjamin masa depan finansial anda.'' Zig Ziglar Penulis dan penceramah yang terkenal di dunia

''Jika anda menginginkan segala kebijaksanaan yang tersembunyi tentang bagaimana menjadi dan TETAP kaya, bacalah buku ini! Suaplah anak anda (jika perlu secara finansial) untuk melakukan hal yang sama.'' Mark Victor Hansen Rekan-penulis New York Times # 1 Best Sellin Chicken Soup for the Soul series

''Saya membayangkan seandainya saya sudah membaca buku ini dua puluh tahun yang lalu.'' Larison Clark, Diamond Key Homes INC. Magazine's Fastest Growing Home Builder di Amerika, 1995

''Saya mencintai anak-anak saya dan ingin agar mereka mendapatkan pendidikan sebaik mungkin! Sekolah tradisional, meskipun sangat penting, tidak lagi memadai. Kita semua harus mengerti soal uang dan bagaimana cara kerjanya.'' Sharon Lechter, C.P.A. Rekan-penulis Rich Dad, Poor Dad

Buku ini akan... * Menghancurkan mitos bahwa anda harus mendapatkan pemasukan yang tinggi untuk menjadi kaya
* Mempertanyakan keyakinan bahwa rumah anda adalah aset
* Menunjukkan pada orangtua mengapa mereka tidak dapat mengandalkan sistem sekolah untuk mengajar anak-anak mereka dalam hal uang
* Mendefinisikan dengan tajam dan jelas perbedaan antara aset dan liabilitas
* Menunjukkan cara mengajar anak-anak anda soal uang sehingga mereka bisa mendapatkan keuntungan yang tidak anda peroleh.
readmore »»  

Ringkasan nasehat buku Ayah yang Kaya dan Ayah yang Miskin (rich dad poor dad)

Ini adalah sekelumit ringkasan dari nasehat yang diberikan oleh ayah kaya dan ayah miskin yang diceritakan oleh Robert T. Kiyosaki. * Ayah Miskin : Cinta uang adalah akar segala kejahatan
* Ayah Kaya : Kekurangan uang adalah akar segala kejahatan
*

Ayah Miskin : Belajarlah yang giat sehingga kamu dapat menemukan sebuah perusahaan yang baik untuk bekerja
*

Ayah Kaya : Belajarlah yang giat sehingga kamu menemukan perusahaan yang baik untuk kamu beli
* Ayah Miskin : Tulislah resume yang mengesankan sehingga kamu bisa mendapatkan pekerjaan yang baik
*

Ayah Kaya : Tulislah rencana bisnis dan finansial yang kuat sehingga kamu bisa menciptakan pekerjaan bagi orang lain
* Ayah Miskin : Saya tidak tertarik dengan uang
* Ayah Kaya : Uang adalah kekuatan, kekuasaan
readmore »»  

Ayah Kaya, Ayah Miskin (Rich Dad,Poor Dad)


Buku ini mengisahkan tentang penulis dan dua orang ayahnya; seorang merupakan ayah kandungnya, "poor dad", manakala seorang lagi, "rich dad", ayah kepada rakan sebayanya,Mike, sewaktu kecil. Kedua-dua ayah ini mengajar penulis bagaimana hendak berjaya melalui dua pendekatan yang berbeda. Dari dua pendekatan ini, penulis akhirnya merumuskan yang mana satukah yang membawa kejayaan di dalam aspek kewangan. Penulis membandingkan prinsip, idea, amalan kewangan dan daya saing serta bagaimana ayah kandungnya, "poor dad", seorang yang berpendidikan, berlumba dengan "rich dad" dari sudut pengumpulan harta kekayaan dan perniagaan. Penulis berpendapat bahawa "poor dad" adalah mereka yang bagaikan terperangkap di dalam Perlumbaan Tikus ("Rat Race"); maksudnya mereka terperangkap di dalam kitaran yang sampai bila-bilapun tidak akan membawa kepada kejayaan, kerana kejahilan terhadap pengetahuan kewangan. Mereka menghabiskan banyak masa di sekolah dengan mempelajari bagaimana menyelesaikan permasalahan dunia tetapi mereka tidak tahu apa-apa langsung tentang wang kerana hal ini tidak pernah diajar di sekolah.Sebaliknya "Rich Dad", digambarkan sebagai mereka yang arif tentang bagaimana mengambil peluang di dalam perniagaan, pengurusan cukai dan perakaunan. Mereka ini berjaya kerana mereka tahu memanfaatkan peluang-peluang yang ada.Buku ini membawa dua konsep utama; iaitu sikap 'boleh melakukan' dan semangat 'keusahawanan kental'. Antara lain buku ini mengetengahkan : 1)Pengetahuan kewangan, 2)Penguasaan perniagaan, 3)Pengendalian perniagaan, 4)Tidak malas, tahan sindiran dan kebal dari sikap-sikap negatif yang lain.
readmore »»  

Ringkasan Buku 'Rich dad poor dad'

"Belajarlah yang giat, raih angka yang baik, dan kamu akan mendapat pekerjaan yang berupah tinggi dan tunjangan yang besar" begitu kata orangtua kita.
Robert Kiyosaki dididik oleh dua ayah, yang satu kaya dan yang satu miskin. Yang satu berpendidikan tinggi, mendapat gelar Ph.D. Dan menyelesaikan pendidikan sarjana hanya dalam waktu kurang dari dua tahun. Kemudian melanjutkan studi ke Stanford University, University of Chicago, dan Northwestern University, semuanya dengan beasiswa penuh. Ayah yang satunya tidak pernah menyelesaikan pendidikan SMP-nya. Mereka berdua berhasil dalam kariernya, bekerja keras seumur hidup mereka. Keduanya berpenghasilan besar. Tetapi ayah yang satu bersusah payah secara finansial sepanjang hidupnya dan ia mati meninggalkan banyak hutang. Sedangkan yang satunya kelak menjadi salah satu orang terkaya di Hawaii dan mati meninggalkan puluhan juta dolar untuk keluarganya dan amal kasih.
Kedua pria itu kuat, kharismatik, dan berpengaruh. Keduanya memberi nasehat, tetapi nasehat mereka tidak sama, bahkan kerap bertentangan. Misalnya, yang satu mengatakan, "Belajarlah yang giat agar kamu dapat menemukan perusahaan yang baik untuk bekerja." Satunya lagi berkata, "Belajarlah yang giat sehingga kamu menemukan perusahaan yang baik untuk kamu beli."
Ayah yang satu mengatakan, "Saya tidak mampu membelinya." Ayah yang lain melarang penggunaan kalimat tersebut. Ia mendorong Robert berkata, "Bagaimana saya bisa membelinya?"
Yang dimaksud dengan ayah yang miskin (di buku ini kebanyakan disebut sebagai Ayah Berpendidikan) adalah ayah kandung Robert, sedangkan ayah yang kaya adalah ayah temannya, Mike. Kisah pertemuannya dengan Sang Ayah Kaya berawal saat ia berusia sembilan tahun. Saat itu Jimmy, teman satu sekolah mereka (Robert dan Mike), mengajak tiga temannya berakhir pekan di villa ditepi pantai, namun tidak mengajak Robert dan Mike karena mereka dianggap orang miskin. Robert dan Mike, pun tertantang untuk membuat sebuah bisnis. Dengan semangat berapi-api Robert dan Mike mengumpulkan tube timah bekas pasta gigi dari para tetangga dan mencairkannya untuk kemudian dicetak menjadi uang logam. Impian mereka hancur saat Sang Ayah Berpendidikan menjelaskan bahwa hal yang mereka lakukan adalah pemalsuan. Ia lalu menyarankan Robert untuk mempelajari cara menjadi orang kaya pada ayah Mike. Ayah Mike pada waktu itu belumlah kaya, tetapi Ayah Berpendidikan tahu bahwa ayah Mike suatu saat akan menjadi sangat kaya karena memiliki beberapa gudang, sebuah perusahaan konstruksi, sebuah toko waralaba, dan tiga restoran.

Dalam buku ini digambarkan beberapa perbedaan sudut pandang tentang uang antara orang kaya dan kelas menengah. Orang kaya cenderung optimis dan berani mengambil risiko, sementara kelas menengah cenderung pesimis dan lebih suka bermain aman. Kesempatan datang dan pergi, orang kaya melihatnya dengan cepat. Tetapi kebanyakan orang hanya mencari uang, dan bukan kesempatan, sehingga hidup mereka cenderung statis.
Kecerdasan bisa memecahkan masalah dan menghasilkan uang, namun memiliki uang tanpa kecerdasan finansial membuat uang cepat habis. Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa yang terpenting dalam hidup ini bukanlah berapa banyak uang yang bisa anda hasilkan, tetapi berapa yang bisa anda simpan. Kita tentu pernah mendengar kisah-kisah orang miskin yang memenangkan undian. Secara tiba-tiba mereka menjadi kaya, tapi tak lama kemudian jatuh miskin lagi.
Akuntansi adalah pelajaran yang paling penting jika ingin menjadi kaya. Kenali perbedaan aset dan liabilitas. Aset adalah sesuatu yang menambah uang. Liabilitas adalah sesuatu yang membuat kita mengeluarkan uang. Orang kaya menambah aset, orang miskin dan menengah menambah liabilitas. Robert Kiyosaki menggambar diagram yang sederhana untuk menjelaskan mengapa orang kaya semakin kaya sedangkan kelas menengah bergumul terus. Orang kaya mempunyai aset yang menghasilkan pemasukan yang lebih besar dari sekedar untuk menutup pengeluaran, orang miskin menambah liabilitas (yang mereka kira adalah aset). Setelah anda memahami perbedaan itu, pusatkanlah segala usaha anda hanya untuk membeli aset yang menghasilkan pemasukan. Itulah cara terbaik untuk mulai perjalanan menjadi kaya. Fokuslah menjaga liabilitas dan pengeluaran akan turun.
Yang tidak kalah penting adalah mempelajari ilmu penjualan. Dalam hal ini, ia menyajikan contoh tentang McDonald's. Banyak yang bisa membuat burger yang lebih enak dari McDonald's, namun mengapa McDonald's lebih kaya dari mereka? Penyebabnya adalah karena McDonald’s memiliki sistem penjualan yang terbaik. Mereka memiliki banyak toko di perempatan strategis.
Buku ini memotivasi kita agar tidak takut gagal dalam memulai bisnis. Ayah yang kaya berkata pada Robert, "Lakukan saja apa yang dilakukan Kolonel Sanders." Kolonel Sanders kehilangan bisnisnya pada usia 66 tahun dan hidupnya mulai tergantung pada cek Jaminan Sosial. Dia lalu berkeliling negeri untuk menjual resep ayam goreng. Dia ditolak 1.009 kali sebelum akhirnya seseorang mengatakan "Ya, baik." Dan dia pun menjadi seorang multijutawan pada umur lanjut ketika kebanyakan orang justru mengundurkan diri.
Walaupun buku ini mengajarkan cara untuk menjadi kaya, namun dalam buku ini Ayah Kaya mengajarkan agar jangan sampai uang mengendalikan hidup kita. Kebanyakan orang berusaha bekerja untuk mencari uang, namun semakin banyak uang didapat, mereka semakin takut kehilangan harta.
readmore »»  

Kamis, 15 April 2010

Rich Dad Poor Dad

Gw baru aja selesai membaca sebuah buku dan ga ada salahnya kalo gw sedikit ng'share sama kalian kan. Yah, itung" dari pada membaca buku yang tebel kurang lebih 1,5 cm, panjang 22 cm, lebar 15 cm, mendingan gw ceritain dulu sinopsisnya.. Hehe..

Judulnya "Rich Dad, Poor Dad", buku yang dikarang oleh Robert Kiyosaki ini sudah terjual lebih dari 16 lembar kopi. Hebat kan. Makanya gw jadi penasaran sama nih buku, dan ternyata berguna banget loh. Membuat gw jadi semangat





Inti dari buku ini adalah BAGAIMANA MENJADI KAYA???.Yup, siapa sih yg ga mau bekerja di suatu perusahaan dengan jabatan tinggi, gaji besar, terus pensiun dalam usia muda dan dapet tunjangan besar. Hampir kebanyakan orang berpikir seperti itu.

Tapi coba liat dari sisi lain.

Semakin tinggi jabatan kita, semakin banyak waktu kita terkuras. Semakin besar gaji kita, semakin banyak pula barang-barang yang ingin kita miliki. Semakin banyak barang yang kita punya, semakin besar pajak kita. Semakin besar pajak kita, semakin pengeluaran kita. Semakin besar pengeluaran kita, semakin keras kita bekerja supaya dapat gaji makin besar. Gaji makin besar, balik lagi ke awal, semakin besar pengeluaran kita.
Ini yang disebut dengan Perlombaan Tikus. Kita terus aja dalam lingkaran itu dan ga pernah keluar.

Yang jadi pertanyaan, bagaimana cara kita keluar dari permainan tersebut..??
Salah satu syarat mendasar, kita harus mengerti bagaimana uang itu bekerja. Jangan biarkan kita yang bekerja untuk uang, tapi uanglah yang harus bekerja untuk kita.
Dan kita harus dengan jelas bisa membedakan antara asset dengan liabilities.
Aset adalah uang yang masuk ke kantong kita. Sedangkan liabilities, mengeluarkan uang dari kantong kita.

Contoh nyata, banyak orang menjadikan rumah mereka sebagai aset, bahkan investasi terbesar mereka. Hal itu salah besar, sebab rumah itu tidak membuat uang masuk ke dalam kantong kita, tapi justru membuat kita mengeluarkan uang karena pajak bumi bangunan yang harus kita bayar. Sederhana, tapi benar kan. Banyak orang yang sulit menjadi kaya walau mereka mendapat gaji yang besar, karena pengeluaran pajak mereka bertambah besar.

Cara simple adalah, jangan simpan uang anda dalam bentuk rumah, mobil, atau bank. Tapi biarkan uang anda bermain dalam, contohnya, real estate, reksa dana, atau saham. Secara logika, jika uang anda diinvestasikan dalam bentuk rumah, tentu akan ada pengeluaran untuk pajak, sedangkan jika uang anda disimpan dalam bentuk saham, tentu tidak ada yang tahu dan tidak akan kena pajak. Hehehe..

Terus ada lagi..
Banyak anak remaja yang bisa membuat burger lebih enak daripada burger yang dibuat oleh Mcd., tapi kenapa mereka ga jadi sekaya pemilik Mcd..?? Itu karena mereka tidak tahu bagaimana caranya mengelola uang Talenta yang mereka miliki saja tidak cukup jika tidak ditunjang dengan pengetahuan akan penjualan dan tentang uang..

Tapi kebanyakan orang, merasa takut jika memainkan uangnya dalam saham. Karena mereka takut jika saham tiba" hancur, maka uang mereka semua akan habis, jadi mereka memilih untuk bermain aman. Gw dapet sedikit pelajaran dari sini.
Alasan orang tidak pernah menang, karena mereka takut untuk kalah. Sama halnya orang mau masuk surga, tapi tidak mau mati.
Jadi, kalau Anda terus takut menjadi miskin, Anda tidak akan pernah mencoba, dan akhirnya tidak pernah menjadi kaya. Lagipula jikalau semakin banyak kita kalah, semakin banyak kita belajar, semakin sukseslah kita..

Itu sebagian kecil isi dari buku "Rich Dad, Poor Dad". Buat yang ngerasa tertarik pada dunia bisnis dan ingin menjadi kaya raya, ga ada salahnya kan membaca buku ini. Lagipula dengan membaca itu bisa memperluas pengetahuan. Daripada bengong-bengong doank di rumah..

Tuhan memberikan kita talenta masing-masing.
Tinggal tergantung bagaimana kita mempergunakannya.
readmore »»