Tampilkan postingan dengan label Robet T.Kiyosaki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Robet T.Kiyosaki. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Oktober 2010

The Rich dad poor dad -Cash Flow Quadrant Robert kiyosaki

Memahami “The Cashflow Quadrant” karya Robert Kiyosaki memang harus dalam pemahaman dengan pemikiran yang positif, jika tidak dalam proses aplikasinya akan menjadi hal yang negatif, intinya dalam memahami maksud yang ingin disampaikan Robert Kiyosaki ini akan memberikan dampak yang baik dan juga sebaliknya. Catatan panjang ini berdasarkan berbagai sumber yang aku sertakan ataupun tidak. (:Males mode on)..dan kembali kepada perspektif anda sendiri dalam pemahamannya, silahkan membacanya sampai habis…cihuuy!!!

Robert T Kiyosaki adalah penulis buku Rich Dad Poor Dad, dan The Cash Flow Quadrant yang menjadi best seller di seluruh dunia. Karyanya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, dan menjadi panduan penting bagi masyarakat yang ingin menjadi pengusaha dan investor.

“Banyak orang bergumul dengan kesulitan finansial, yang sebenarnya disebabkan mereka bertahun-tahun sekolah tapi tidak belajar apapun tentang uang. Hasilnya, orang bekerja untuk mendapatkan uang, dan tak pernah belajar bagaimana memiliki uang yang bekerja untuk mereka,”demikian ujar Robert dalam buku Rich Dad Poor Dad.Robert adalah generasi keempat keturunan Amerika Jepang, yang lahir di besarkan di Hawaii. Ia berasal dari keluarga pendidik yang terkenal. Ayahnya seorang kepala Pendidikan untuk negara bagian Hawaii. Selepas SMU, Robert melanjutkan pendidikannya di New York dan setelah lulus, ia bergabung dengan US marine Corp dan pergi ke Vietnam sebagai perwira dan pilot helikopter yang bersenjata. Sekembalinya dari perang, karier bisnis Robert dimulai. Tahun 1977 dia mendirikan sebuah perusahaan yang memproduksi dompet surfer dari velcro dan nilon yang pertama ada di pasaran, dan berkembang menjadi bisnis yang menghasilkan jutaan dollar.

Tahun 1985 ia mendirikan sebuah perusahaan pendidikan internasional yang beroperasi di tujuh negara, mengajarkan bisnis dan investasi kepada puluhan ribu orang.

Pada umur 47 tahun Robert melakukan sesuatu yang paling ia sukai, berinvestasi. Bisnis Robert adalah real estate dan mengembangkan perusahaan-perusahaan kecil. Namun gairah sejatinya adalah mengajar. Dia diakui sebagai pembicara hebat tentang pendidikan finansial dan tren ekonomi. Karyanya telah mengubah dan memberi inspirasi kepada jutaan orang di seluruh dunia.

Pesan Rober sangat jelas,”bertanggungjawablah atas keuangan anda atau hanya menerima nasib sepanjang hidup anda. Anda menjadi tuan atas uang atau budak uang. Terserah anda memilihnya.”

Berulang kali, dalam ceramah maupun dalam bukunya, Robert selalu mengajarkan agar kita jangan bekerja untuk mencari uang, tapi berusahalah agar uang bekerja untuk kita. Bukunya yang berjudul Rich Dad Poor Dad maupun The Cashflow Quadrant dengan penuh semangat dan dengan cara yang mudah dipahami, ia mengajarkan bermacam kiat agar kita menjadi kaya, dalam arti uang bekerja untuk kita, bukan kita bekerja untuk uang.

Cashflow Quadrant

Karya Robert yang paling dikenal adalah membagi kategori hidup orang berdasarkan sumber penghasilan ke dalam 4 kuadran, yakni kuadran I E (employee/pegawai), Kuadran II S (Self Employed/pekerja lepas), Kuadran III B (business Owner/pemilik usaha), dan kuadran IV I (Investor/penanam modal).

Robert mengatakan, kebanyakan dari kita berpotensi memperoleh penghasilan dari keempat kuadran. Contoh kasus seorang dokter yang bekerja di sebuah rumah sakit dengan jabatan direktur, memiliki klinik spesialis anak, dan punya usaha perkebunan. Sebagai direktur rumah sakit, sang dokter ada di kuadran I (E), namun sebagai seorang ahli penyakit anak, ia bertindak sebagai self employed (S). Ia juga memiliki usaha perkebunan, yang berarti seorang business owner (B). Bisa jadi dokter itu juga melakukan investasi di sektor properti atau yang lainnya yang berarti masuk ketagori kuadran IV.

Nah sang dokter adalah orang yang lengkap hidupnya karena mengalami hidup dalam kuadran I-IV.

Pesan-Pesan Ayah kaya

Jadi sebenarnya kita diberi ajaran 4 kuadran, untuk memilih salah satu atau bisa juga semuanya. Robert memang menganggap kuadran E sebagai yang paling miskin, dan Investor menjadi paling kaya.

Dalam bukunya yang terkenal itu Robert menggambarkan dirinya sebagai seorang yang lahir dari keluarga pegawai yang menghendaki Robert supaya belajar tekun bekerja di perusahaan atau pemerintah dan mendapat gaji baik dan sejumlah tunjangan dan uang pensiun. Sementara ia mengenal seorang teman yang sangat dekat dan ayahnya seorang kaya raya dan dermawan.

Ayah kaya (Rich Dad) itulah yang menarik perhatian Robert, hingga ia bisa belajar bagaimana mendapatkan kekayaan dengan cara yang cerdas. Dalam uraiannya, ayah kaya adalah seorang investor yang mengajarkan kepada Robert bagaimana menjadikan uang bekerja untuk robert.

Robert akhirnya memang benar-benar berhasil menjadi seorang yang kaya dengan menjadi investor.

Buku Ricd Dad maupun The Cashflow Quadrant menjanjikan kepada pembaca bahwa untuk menjadi kaya, seorang harus pindah dari kuadran kiri yakni seorang E dan S menjadi B atau I.

Seorang pekerja adalah seorang yang sangat tergantung kepada perusahaan. Hidupnya kelihatan enak, tapi sesungguhnya sangat beresiko. Seorang S bisa bekerja sendiri, masalahnya ia akan sangat tergantung kepada keahliannya.

Contohnya seorang dokter buka praktek. Ia bekerja siang malam melayani pasien karena banyaknya pasien di wilayahnya. Ia sangat terkenal di seluruh kota. Masalahnya ketika ia berlibur ia tidak bisa mendapatkan apa-apa.

Sementara jika kita hidup di kuadran kanan, baik sebagai pemilik bisnis maupun investor, ia bisa meninggalkan kantor dengan enak karena sistem bisnis berjalan dengan sendirinya.

Seorang E bekerja, seorang S memiliki pekerjaan sendiri, seorang B memiliki sistem dan orang-orang yang bekerja, dan seorang I menjadikan uang bekerja untuk dirinya.

Dalam sebuah perkembangan negara jumlah orang yang hidup di kuadran I-IV jumlahnya harus seimbang sehingga semua orang bisa hidup, baik sebagai pekerja, profesional, pemilik bisnis maupun investor.

Di Indonesia, kebanyakan orang mau hidup di kuadran I, sementara di kuadran III dan IV sangat sedikit, itulah sebabnya pengangguran ada dimana mana. Berbahagialah anda yang kini sudah hidup di kuadran III (sebagai business owner) dan IV (sebagai investor).

Berdasarkan cerita Kiyosaki, dia dilahirkan dari sebuah keluarga yang terpandang di Hawai, terutama dalam bidang pendidikan dan menjadi kepala dinas pendidikan di Hawai pada waktu itu. Ayah kandungnya adalah seorang berpendidikan tinggi dan sangat cerdas. Ayahnya mendapat pendidikan sampai Ph.D kemudian dilanjutkan ke Stanford University, University of Chicago dan Nothwestern University. Untuk pendidikan tingginya ,semua dibiayai oleh beasiswa. Kiyosaki dalam kisahnya menyebut ayah kandungnya sebagai ayah yang miskin (poor dad), karena meskipun sukses dalam pendidikan dan karir, pada akhir hidupnya meninggalkan banyak hutang dan tidak kaya. Sedangkan ayah satunya adalah bukan ayah kandungnya akan tetapi ayah dari temannya, yang darinya Kiyosaki banyak belajar tentang filosofi uang dan kebebasan finansial. Ayah kayanya (rich dad) tidaklah memiliki pendidikan setinggi ayah miskinnya, bahkan tidak lulus pendidikan tingkat 8 nya ( SLTP mungkin kalau di Indonesia) . Akan tetapi diakhir hidupnya, dia menjadi orang terkaya di Hawai. Keduanya adalah orang yang sukses dibidangnya, akan tetapi didalam kebebasan finansial, keduanya berakhir dengan hasil yang berbeda.

Pada saat ayah kayanya belum kaya dan ayah miskinnya belum miskin, kedua orang ayahnya adalah orang yang berusaha keras untuk sukses di bidangnya. Ayah miskinnya bekerja keras di jalur pendidikan dan ingin hidup tenang sebagai pegawai pemerintahaan yang baik, sedang ayah kayanya berusaha keras membangun kerajaan bisnisnya. Kedua ayah Kiyosaki ini memiliki cara pandang yang sangat berbeda terkait uang, pengelolaan, dan tujuan finansialnya. Ayah miskinnya mengatakan bahwa mencintai uang adalah sumber dari segala setan, sedangkan ayah kayanya mengatakan bahwa kehabisan dan kekurangan uang adalah sumber dari setan. Ayah miskinnya mengatakan bekerjalah dengan keras, dapatkan pekerjaan yang baik dan capailah karir setinggi-tingginya, sedang ayah kayanya menyarankan agar segera membangun aset dan mencapai kebebasan finansial (finansial freedom).
Ayah miskinnya, hanya sedikit menyinggung tentang uang dan bagaimana memperolehnya, sedang ayah kayanya setiap hari mengasah otaknya dengan kecerdasan finansial dan mengembangkan bisnisnya.

Berikut beberapa perbedaan pandangan ayah miskin (PD) dan ayah kaya (RD)Kiyosaki terkait tentang uang dan kebebasan finansial :
1. PD : Rumah adalah aset
RD : Rumah yang ditinggali adalah liabilitas.
Rich dad mengatakan, jika kamu berhenti bekerja saat ini, aset akan memasukkan uang kedalam kantongmu, sedangkan liabilitas mengambil uang dari kantongmu. Seringkali orang biasa mengatakan liabilitas sebagai aset, dan ini adalah pelajaran pertama kalau ingin kaya, harus bisa membedakan mana aset dan mana liabilitas.

2. PD : Saya tidak mampu untuk melakukannya
RD : Apa yang saya lakukan agar mampu?
Pernyataaan saya tidak mampu melakukannya akan mematikan otak kita, dengan pertanyaan yang tepat, pikiran akan terbukan dan akan berusaha menemukan jawabannya.

3. PD : Alasan saya tidak kaya karena kamu nak
RD : Alasan saya harus menjadi kaya karena memiliki kamu nak.

4. PD : Saya tidak tertarik dengan uang
RD : Uang adalah power

5. PD : Apabila berkaitan dengan uang, jangan mengambil resiko, bermainlah dengan aman saja
RD : Belajarlah untuk mengelola resiko.

6. PD : Bayar aku yang terakhir.
RD : Bayar aku yang pertama.
Ayah kayanya selalu mengambil keuntungan dari pendapatannya dan meletakkan uang itu kedalam account investasi yaitu untuk membeli aset-aset dia. Ayah miskinnya membelanjakan semua uangnya pertama dan tidak pernah terpikir untuk berinvestasi.

7. PD : Konsentrasilah pada pendidikan.
RD : Fokuslah pada kecerdasan finansial sebagaiman juga kecerdasan akademik.

8. PD : Belajarlah hanya kata-kata pendidikan.
RD : Belajarlah kata-kata keuangan, kata-kata adalah tool kamu yang paling powerfull.

9. PD : Aku bekerja untuk uang.
RD : Uang bekerja untukku.

10.PD : Berfikir untuk menghasilkan uang akan menyelesaikan masalah keuangan.
RD : Mengetahu bahwa pendidikan finansial adalah jawaban masalah keuangan.
Bukan berapa uang yang bisa anda dapatkan yang terpenting, akan tetapi berapa banyak uang dapat anda pegang dan berapa lama uang tersebut anda pegang.

Rich Dad Poor Dad karya Robert T Kiyosaki ini memang fenomenal, meskipun sudah tidak lagi menempati rak “buku laris” di Gramedia, tapi buku ini cukup membuat gonjang-ganjing beberapa waktu yang lalu.

Sejak awal, ketika MLM sedang booming, saya sama sekali tidak tertarik. Saya adalah fans kerja keras, dimana orang harus bekerja keras untuk mendapatkan yang ia cita-citakan. Konsep MLM yang mendasari orang tinggal ongkang-ongkang kaki untuk menjadi kaya, tidak masuk di saya. Dan karena orang MLM selalu membawa buku ini menjadi “kitab suci”-nya, otomatis saya mengindari buku ini juga.

Ditambah lagi, beberapa tahun yang lalu dimana ngeblog juga sedang booming, seorang seleblog menulis artikel yang menyerang buku ini. Merasa sependapat, buku ini juga saya anggap sampah. (Padahal jika dicermati, penulis blog itu sebenarnya memakai gaya bahasa yang sama persuasif-nya dengan buku yang sedang ia serang — cuma lebih tidak kentara).

Oke, sekarang giliran saya mengutarakan pendapat tentang buku ini.

Tak dapat dipungkiri, si Kiyosaki ini kapitalis habis, pemuja uang. Uang adalah pusat dunianya. Gaya berceritanya menarik, persuasif, cenderung mempengaruhi ketika sang Ayah kaya memaparkan konsep-konsepnya tentang bagaimana mengelola uang. Gaya bahasanya cenderung meremehkan karyawan-karyawan yang setia bekerja keras, meremehkan orang-orang berpendidikan tinggi yang tidak bisa membebaskan diri dari masalah finansialnya.

Tapi hei, buku ini tidak sepenuhnya sampah — kecuali kalau kita membacanya dengan emosional.

Buku ini bagus. Berisi pelajaran tentang bagaimana mengelola uang. Bagaimana mengendalikan dua emosi yang bertolak belakang: ketakutan akan kekurangan uang dan ketamakan ketika mendapatkan uang. Menjadi kaya tidak cukup untuk bisa mengendalikan dua emosi ini. Bagaimana aset, pendapatan, investasi dikelola dalam hidup Anda. Menurut saya, sisi bagus buku ini terletak pada filosofinya. Memberikan kita sebuah sudut, potret, dan konsep bagaimana mengelola keuangan.

Tetapi buku ini akan menjadi sampah jika Anda menelan mentah-mentah hal-hal teknis yang sedang dibahas. Seperti yang dilakukan oleh orang-orang MLM itu. Konsep membuat uang bekerja untuk Anda terlalu berbahaya jika kalimat ini tidak dicerna bersama kedalaman pemikiran. Anda akan segera terjebak oleh kalimat-kalimat persuasif buku ini, terjebak oleh sisi emosi Anda.

Maksud saya, tidak harus menjadi pengusaha agar uang bekerja untuk Anda. Tidak harus memiliki rumah yang dikontrakkan untuk membuat liabilitas menjadi sebuah keuntungan (haha). Buku ini bagus untuk perluasan sudut pandang saja
readmore »»  

CashFlow Quadrant dan Mindset Pengusaha

‘Anda ingin merubah nasib, ingin benar-benar peduli terhadap nasib orang lain, ingin berjuang untuk keluarga’. Kami tawarkan salah satu solusinya.

Sebagai awal kami akan sharing tentang sebuah buku karangan Robert T. Kiyosaki berjudul Cash Flow Quadran. Buku ini benar2 menginspirasi jutaan orang. Berdasarkan caranya mencari UANG setiap orang bisa dibagi manjadi 4 Quadran, E, S, B, I.



1. E itu Employe / Karyawan /You have a job
’Belajarlah yang BENAR kemudian kerja di perusahaan / instansi yang Bonafid’. Contoh posisi yang diperebutkan di sini adalah lurah/kades, Camat, Bupati / Walikota, Gubernur, Mentri, Anggota Dewan, Manajer perusahaan, Direktur Perusahaan, bahkan Presiden. Penghasilannya boleh besar tetapi ketika mereka tidak bekerja lagi / pensiun, maka penghasilannya tiap bulanpun ikut BERHENTI.

2. S itu / Self Employed / Kerja buat Diri Sendiri / Para Profesional / You own a job
‘ Ingin melakukan pekerjaan dengan BENAR maka kerjakan / lakukan sendiri pekerjaan itu dan teruslah BELAJAR untuk meraih PROFESIONAL TERTINGGI’ Contoh posisi yang diperebutkan di sini adalah dokter spesialis, artis, pemain sepakbola kelas dunia, pengacara senior, akuntan, dll. Penghasilannya boleh besar tetapi ketika mereka tidak bekerja lagi / pensiun, maka penghasilannya tiap bulanpun ikut BERHENTI.

3. I itu Investor / Money work for you
‘UANG menghasilkan UANG lagi’. Contoh : Deposito, Menyewakan toko, Menyewakan apartemen, Menyewakan rumah, Pemilik PARAGON CITY, dll. Penghasilannya BESAR dan mereka memang tidak perlu BEKERJA, namanya aja ’INVESTOR’.

4. B itu Business Owner / You own a system and people work for you.
’Serupa dengan S tapi pekerjaan sudah didelegasikan dan ada systemnya’. Contoh : Pemilik Indomart, Pemilik Alfamart, dll. Penghasilannya BESAR dan ketika mereka tidak bekerja lagi / pensiun, maka penghasilannya tiap bulanpun TETAP bahkan bisa BERTAMBAH.

E dan S itu masuk kategori Aktive Income
Untuk menghasilkan UANG harus BEKERJA.

B dan I itu masuk kategori Pasif Income
Untuk menghasilkan UANG TIDAK HARUS BEKERJA.

Pasti Anda juga berpikiran sama dengan Kami, yaitu mempunyai impian untuk ada di Quadrant B dan I, namun kebanyakan orang menganggap mustahil, karena agar bisa di Quadrant ini membutuhkan modal yang sangat besar sekali dan juga butuh keahlian dan pengalaman agar tidak salah memilih usaha.

Dan kami menawarkan mulai dari pelanggan saja juga boleh, mulai dari pedagang eceran juga boleh, menjadi agen kecil-kecilan juga boleh, namun jika Anda mempercayai komitmen kami Silahkan mendaftar sebagai Distributor Besar cuma dengan modal 10 juta rupiah.

Sebagai ilustrasi memilih partner kerja kami mempunyai sebuah perumpamaan yang menarik....

Misalnya ketika Anda berencana mendaki sebuah Gunung, kemudian memilih seorang 'Penunjuk Jalan / Guide' saat mau mendaki Gunung, apakah memilih orang yang baru sempat "baca petanya" saja atau memilih orang yang sudah berkali-kali mendaki gunung tersebut dan selalu sampai di Puncak.

Pasti Anda akan pilih yg sudah berkali-kali capai puncak khan, meskipun orang yang sudah baca petanya itu seorang profesor yang jenius sekalipun...Untuk itulah kami ada untuk menjadi GUIDE bagi Anda yang serius.”Saya akan membahas lebih dalam tentang Prinsip Cash Flow Quadrant Robert T. Kiyosaki. Setiap dari Anda pasti berada di salah satu Quadrant tersebut.

Karena ini merupakan tawaran kerjasama bisnis, maka saya akan sebut sejumlah angka yaitu 1,6 Milyar Rupiah atau Rp.1.600.000.000,- .

Pertanyaannya adalah :
1. Apakah Anda yakin dapat mengumpulkan sejumlah angka tersebut dengan cara kerja normal?
2. Kalau sudah yakin, berapa waktu yang dibutuhkan untuk mengumpulkannya?

Menurut Prinsip Cash Flow Quadrant orang bisa berada di Quadrant E,S,I atau B.

1. Quadrant E, Employe, jabatan yang menjadi incaran banyak orang adalah lurah, camat, walikota, gubernur, anggota dewan, mentri, manajer, dll. Misalkan aja seorang anggota dewan kota Semarang dengan gaji ’pure’ / ’murni’ yg diterima tiap bulan adalah 15 juta tiap bulan, maka berapa lama yang dibutuhkan untuk mengumpulkan uang 1,6 Milyar ?

Rumusnya adalah 1,6 Milyar dibagi 15 juta dibagi 12 bulan = 8,89 tahun

Anggota Dewan kota Semarang aja butuh 8,89 tahun untuk mengumpulkannya dengan asumsi gaji tersebut utuh tanpa dikurangi kebutuhan sehari-hari. Trus bagaimana dengan karyawan yang gajinya 5 juta? Butuh waktu 26,67 tahun untuk mengumpulkannya dengan asumsi gajinya UTUH nggak dikurangi biaya hidup sehari-hari.

2. Quadrant S,Self Employe, profesi yang diincar banyak orang adalah dokter spesialis, konsultan ahli, pengacara ahli, dll. Misalkan aja dokter spesialis dengan hasil rata-rata tiap bulan adalah 20 jt.

Rumusnya adalah 1,6 Milyar dibagi 20 juta dibagi 12 bulan = 6,67 tahun

Dokter spesialis aja butuh 6,67 tahun untuk mengumpulkannya dengan asumsi gaji tersebut utuh tanpa dikurangi kebutuhan sehari-hari. Trus bagaimana dengan profesi kebanyakan orang seperti pedagang kelas menengah kebawah yang hasil keuntungan tiap bulannya 3 juta? Butuh waktu 44,44 tahun untuk mengumpulkannya dengan asumsi gajinya UTUH nggak dikurangi biaya hidup sehari-hari dan omsetnya stabil.

3. Quadrant I, Investor, dan pilihan investasi yang bisa dikerjakan bisa saja di pasar saham, dunia property, deposito, dll. Misalkan aja Anda memiliki uang sebesar 1,6 Milyar, berapa waktu yang dibutuhkan untuk balik modal, sebut aja uang sebesar itu digunakan untuk bangun sebuah rumah dengan 5 kamar dan masing-masing kamar disewakan sebesar 800 ribu tiap bulan, totalnya 4 juta tiap bulan tanpa BEKERJA (sudah Pasif Income).

Rumusnya adalah 1,6 Milyar dibagi 4 juta dibagi 12 bulan = 33,33 tahun.

Butuh waktu 33,33 tahun untuk balik modal dengan asumsi tiap tahun tidak ada kenaikan sewa dan tidak ada biaya operasional seperti rehab, listrik, air, dll.

4. Quadrant B, Bisnis Owner, dan ini pilihan yang kami tawarkan dan investasi yang dibutuhkan hanya 10 juta saja. Dan PT.Winalite siap membayar sejumlah uang yang Anda butuhkan sesuai dengan Leadership Anda. Selain itu FFG (Freedom Faithnet Global) juga siap memberikan ”KEBAHAGIAAN” buat Anda dan keluarga, karena di luar sana banyak orang dengan harta melimpah tapi HIDUPNYA SENGSARA.

Khususnya saya sendiri (ibu Yulyani/Yeyen) sudah membuktikan ketika menjalankan sesuai arahan para Leader, maka saya pribadi bisa mengumpulkan uang lebih dari 1,6 Milyar hanya dalam waktu 18 bulan saja atau 1,5 tahun. FANTASTIC !!!...Sekarang tinggal pilihan Anda, karena saya adalah seorang manusia biasa sebagaimana dengan Anda dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Terus terang dulu ketika masih sekolah saya dikenal sebagai anak yang ’gagap’ saat bicara apalagi bicara didepan orang banyak....ketika saya belajar tidak kenal menyerah akhirnya bisa mengatasi kegagapan saya meskipun kadang-kadang masih keluar”
readmore »»  

Makna kecerdasan finansial -financial freedom

Banyak buku yang membahas tentang kecerdasan finansial, keuangan, dan kemakmuran. Salah satunya yang cukup terkenal adalah Robert T Kiyosaki dan banyak tokoh-tokoh lainnya. Di Indonesia ada Tung Desem Waringin, Safir Senduk, dan lain-lain yang mengajarkan tentang kecerdasan finansial… kalo aku ga penting apa itu cerdas finansial…yang penting happy…:pemikiran yang aneeh…Tetapi pada intinya, kecerdasan finansial adalah keterampilan untuk mendapatkan uang dengan cerdas dan benar, mempergunakan uang dengan bijaksana, terencana, dan terukur. Kemampuan untuk meningkatkan aset dan mengurangi liabilitas untuk mencapai kemakmuran dan kebebasan finansial (financial freedom). Kecerdasan ini jarang diajarkan secara formal kepada kita bahkan itu oleh sekolah maupun oleh orang tua kita. Tapi saya merasa sangat beruntung ketika masih kecil diajarkan oleh Ibu untuk membuat perencanaan uang sederhana, minimal satu bulan sekali membuat permintaan uang saku dengan rencana. Diajarkan untuk senang menabung, dan hidup sederhana saja. Hal-hal seperti ini perlu kita ajarkan kepada anak-anak kita. Tetapi, tentunya sekarang sudah sangat berkembang ilmu mengenai kecerdasan finansial, mengelola uang, dan aset-aset yang bisa dipilih untuk dimiliki. Dan kita dengan mudah mempelajari tentang semua ini, karena sudah banyak yang sumber informasi dan tempat untuk mengasah kecerdasan finansial.

Bagaimana cara kita untuk meningkatkan kecerdasan finansial adalah salah satu hal penting yang perlu kita pelajari. Kita dapat meningkatkan kecerdasan finansial dengan membaca berbagai pengetahuan dasar mengenai hal tersebut, mengikuti seminar, traning, dan segala macam pelatihan. Kita juga harus berani mengambil keputusan dan bertindak lebih cerdas. Tryal and error perlu dilakukan untuk mengasah kecerdasan finansial. Bukankah guru yang terbaik adalah pengalaman kita sendiri? Cara paling mudah dan relatif berhasil adalah apabila anda memiliki mentor orang-orang yang telah sukses secara finansial, mempelajari pandangan dan gaya hidupnya, serta secara konsisten mengaplikasikannya kedalam kehidupan sehari-hari.
readmore »»  

Rabu, 18 Maret 2009

Tentang ROBERT T.KIYOSAKI

Inilah pernyataan menarik yang dilontarkan Robert T Kiyosaki dalam bukunya, 'Rich Dad Poor Dad' (RDPD). Buku ini merupakan karya pertama dari trilogi Kiyosaki, bersama dua buku lainnya, 'Cashflow Quadrant (CQ)' dan 'Rich Dad: Guide to Investing' (RDGI). Dan tentu saja trilogi yang ditulis bareng dengan kawan lamanya, Sharon L Lechter, kini jadi buku 'bestseller' versi 'New York Times.'

Sebagai pengarang berperspektif unik mengenai bisnis, Kiyosaki memang mengkhususkan diri menulis buku-buku bertema ekonomi. Dasar pemikirannya sangat sederhana: Jabatan, karier, maupun kepandaian, tidak bisa menjamin seseorang menjadi kaya. Itu sebabnya, menurut Kiyosaki, konsep pendidikan yang menekankan bahwa ''anak sekolah harus pintar'' harus diubah total. Ini agar kita tidak terkurung dalam 'rat race,' kehidupan yang tak cerdas.

''Alasan utama orang bersusah payah secara finansial adalah karena mereka menghabiskan waktu bertahun-tahun di sekolah, tetapi tidak belajar apa pun mengenai uang,'' ujar Kiyosaki yang pernah menjadi staf pengajar bisnis dan investasi. ''Hasilnya adalah orang bekerja untuk mendapatkan uang, tetapi tak pernah belajar agar uang bekerja untuk mereka.''

Sebagai pengganti, Kiyosaki melontarkan gagasan 'how to get rich.' Ada enam kiat yang dapat diaplikasikan untuk menjadi orang kaya. Pertama, ''Orang Kaya Tidak Bekerja Untuk Uang'' (hlm 13). Ini bisa jadi cara efektif menghindari kemiskinan. Sebab, kata Kiyosaki, orang miskin tidak memiliki kebebasan finansial dalam hidupnya. Penghasilannya selalu habis untuk membiayai kewajibannya.

Kia t kedua, penguasaan atas empat konsep bisnis -- yaitu pemasukan, pengeluaran, neraca aset, dan liabilities. Secara detil kiat ini diungkap dalam item ''Mengapa Mengajarkan Melek Finansial'' (hlm 57). Ketiga, anjuran untuk memulai bisnis sendiri sebagai jalan awal menuju kekayaan. Ini diungkapnya dalam bab ''Uruslah Bisnis Anda Sendiri'' (hlm 93). Sedang kiat keempat Kiyosaki terasa lebih teknis, yaitu ihwal ''Sejarah Pajak dan Kekuatan Korporasi'' (hlm 105). Intinya, bila kita bagaimana mengatur pajak, maka pengetahuan ini akan mendatangkan kekayaan.

Masih ada kiat kelima, yaitu ''Orang Kaya Menciptakan Uang'' (hlm 121). Di sini Kiyosaki membahas ihwal 'kecerdasan finansial' orang kaya dalam mengelola uang. Kecerdasan itu antara lain, dapat membedakan 'good and bad liabilities, good and bad debt, good and bad expenses,' dan 'good and bad risk.' Dibahas pula tentang investasi sebagai teknik orang kaya menciptakan uang.

Kiat terakhir yang disodorkan Kiyosaki adalah ''Bekerja Untuk Belajar, Jangan Bekerja Untuk Uang'' (hlm 149). Ajaran ini terkait dengan perubahan paradigma era informasi, dari 'school smart' ke 'school smart' dan 'street smart.' Artinya, selain diperlukan kecerdasan akademis, untuk jadi orang kaya, dibutuhkan juga 'ilmu jalanan' yang tidak didapat di bangku sekolah.

Tentu saja Kiyosaki tak mencipta kiat ini dari ilmu ekonomi yang dipelajarinya secara formal. Tapi, lebih bertumpu pada renungan tentang kisah hidupnya sendiri. Seperti yang dikutip di 'RDPD', yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama pertama kali September 2001, sukses karier bisnis Kiyosaki diawali sejak 1997 dengan mendirikan perusahaan dompet berbahan nylon. Di tahun 1985 kegiatan bisnis pengusaha kelahiran Hawaii ini mulai dikurangi, tetapi kegiatan investasi tetap dilakukan. Dari sanalah Kiyosaki terus menuai sukses.

Menurut Tri Utomo Wiganarto, konsultan West Java Corridor, trilogi Kiyosaki ini hampir sepenuhnya berbicara tentang pembentukan karakter pribadi kita dan hanya sedikit yang membahas masalah teknis. ''Pendekatan Kiyosaki adalah pendekatan 'leaderships' yang dituangkan dalam bahasa yang membumi,'' kata Tri Utomo dalam acara bedah buku trilogi Kiyosaki di Bandung belum lama ini. ''Pemikiran Kiyosaki mengubah paradigma berpikir kita menjadi lebih terbuka.''

Rendra Hertiadhi, marketing dan corporate director PT Myohdotcom Indonesia Tbk, menilai bahwa empat konsep bisnis Kiyosaki sangat aplikatif. Bila kita mengadopsi konsep 'bad liabilities' -- seperti spekulasi utang -- risikonya sangat tinggi. Selama utang sesuai rencana, tidak jadi masalah. Asal, sumber pembayaran utang bukan dari kantong sendiri, melainkan dari aset bisnis yang kita ciptakan. ''Jadi, pembahasan Kiyosaki tentang 'bad and good liabilities' sangat tepat,'' ujarnya.

Buku 'RDPD' secara keseluruhan memaparkan serangkaian petunjuk agar kita berusaha mendekati impian kita untuk menjadi kaya. Tetapi di akhir buku, Kiyosaki menegaskan bahwa semuanya berpulang pada seberapa keras usaha dan kontrol diri Anda. Buku kedua, 'CQ,' dicetak enam kali sepanjang tahun 2001. Di sini Kiyosaki menciptakan sebuah model yang disebut 'cashflow quadrant.' Model ini terdiri dari empat kuadran yang memetakan empat posisi orang dalam konteks finansial.

Buku setebal 330 halaman dan terdiri dari 18 bab ini memberikan petunjuk bagi kita untuk mengetahui di kuadran mana posisi kita dan membantu kita untuk berpindah ke kuadran yang lebih baik. Empat kuadran tersebut adalah kuadran E ('employee'), kuadran S ('self employee'), kuadran B ('business ownners'), dan kuadran I ('investor').

Di bagian pertama buku ini, Kiyosaki memaparkan perbedaan inti dari orang-orang pada masing-masing kuadran dengan menganalisis kata-kata mereka. Bagian kedua merupakan tahap-tahap membangkitkan potensi yang ada dalam diri untuk menjadi kaya. Bagian ketiga buku ini diisi nasehat Kiyosaki menjadi 'business ownners' dan 'investor' yang sukses. Intinya adalah kontrol diri, investasi, dan manajemen. Selain itu juga disuguhkan tujuh langkah menemukan jalur cepat kebebasan finansial Anda (Bab 11).

Buku ketiga, 'RDGI,' baru selesai diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia tiga pekan lalu. Buku ini lebih banyak memberikan petunjuk teknis investasi serta pelajaran tentang bagaimana mempertahankan bisnis yang telah Anda bangun. Ada tiga hal yang menurut Kiyosaki dapat dilakukan untuk mempertahankan bisnis kita, yaitu dengan menyumbangkan kecerdasan, pengalaman, dan uang Anda pada pihak-pihak yang membutuhkan.

Perr y Tristianto, raja 'factory outlet' Bandung, mengaku bahwa gara-gara teori Kiyosaki, ia yang memulai kariernya di kuadran E sekarang mampu bermain di kuadran B . ''Pelajaran dari Kiyosaki sebagian besar terjadi pada kehidupan saya,'' papar Perry.

Terdiri dari kurang lebih 400 halaman, buku ini memberikan pandangan komprehensif mengenai pemikiran-pemikiran Kiyosaki dalam bentuk tips-tips yang dikemas secara menarik. Semuanya digelar dalam bahasa yang sederhana dan sistematis. Artinya bisa dicerna dengan mudah oleh siapa pun.

Di tengah terpuruknya perekonomian kita, trilogi Kiyosaki memang menawarkan angin segar. Apalagi buku ini memang ditulis Kiyosaki pada suatu periode hidupnya yang serba sulit. Kiyosaki sempat mengalami keterpurukan, kehilangan tempat tinggal, menjadi orang yang terpinggirkan, dan jatuh sakit.

''Di saat semua pihak tidak yakin kita bisa bangkit, buku ini benar-benar memberikan inspirasi pada kita. Yang paling penting adalah bagaimana kita mengarahkan kekuatan diri sendiri untuk membangun sesuatu,'' kata Tri Utomo.
readmore »»